Berita Ekonomi Bisnis

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Mendorong Peningkatan Transaksi Hedging Treasury BNI

Fluktuasi nilai tukar rupiah atas mata uang asing telah mendorong pengusaha untuk melakukan kebijakan hedging.

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Mendorong Peningkatan Transaksi Hedging Treasury BNI
surya.co.id/sri handi lestari
Muhammad Jufri, CEO BNI Kantor Wilayah Surabaya (kanan) bersama Irwan Wirawan, Head of Treasury Regional Area Surabaya (kiri) memberi keterangan terkait produk hegding (lindung nilai) untuk pelaku usaha di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Fluktuasi nilai tukar rupiah atas mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat (AS) telah mendorong pengusaha untuk melakukan kebijakan hedging atau lindung nilai. Yaitu usaha untuk memitigasi risiko ketidakpastian pergerakan nilai tukar dan tingkat suku bunga.

"Di tengah kondisi perekonomian seperti saat ini tentunya banyak pelaku usaha terpapar risiko pasar keuangan akibat pelemahan nilai tukar ini. BNI memiliki beragam produk lindung nilai (hedging) yang sudah mendapat izin dari OJK dan Bank Indonesia seperti Forex Forward, Forex Swap, Forex Option, Cross Currency Swap, Interest Rate Swap dan Call Spread Option, yang bisa dimanfaatkan," kata Muhammad Jufri, CEO BNI Kantor Wilayah Surabaya, Senin (1/10/2018).

Layanan ini, bisa didapatkan di Treasury Regional Area (TRA) Surabaya, yang menjadi makin penting untuk menawarkan solusi lindung nilai yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan nasabah.

"Pengusaha cukup fokus di kegiatan bisnis, risiko-risiko pasar (fluktuasi nilai tukar dan suku bunga) serahkan kepada BNI dan biarkan BNI yang menangani risiko tersebut", tambahnya.

Setiap tahunnya TRA Surabaya mencatatkan rata-rata volume transaksi hingga 2 miliar dolar AS dengan volume transaksinya lindung nilai (hedging) yang mencapai 350 juta dolar AS atau ekuivalen 5,1 triliun rupiah. Menurut Jufri, hal itu masih sekitar 20 persen. Saat ini produk hedging yang sudah banyak digunakan oleh pelaku usaha di wilayah surabaya adalah forex swap, forex forward dan cross currency swap.

"Ini menjadi tantangan tersendiri untuk meningkatkan volume hedging. Apalagi potensi pelaku usaha di wilayah Surabaya dan Jawa Timur ini cukup besar," ungkap Jufri.

Terkait nilai tukar rupiah yang terdepresiasi sebesar -10,02 persen terhadap dolar AS di mana awal tahun rupiah masih berada di level 13,542 per dolar AS, namun pada tanggal 30 September 2018 nilai tukar rupiah terhadap mata uang negeri Paman Sam ini sudah berada di level 14,900. Di pasar keuangan harga saham dan obligasi pun ikut berguguran.

"Nah itu bisa menjadi pengalaman dan pendorong bagi pelaku usaha untuk memanfaatkan program hedging ini," tambah Jufri.

Upaya lain yang dilakukan BNI Wilayah Surabaya adalah ikut mendorong peningkatan ekspor. Terutama dengan pelaku usaha kecil dan menengah untuk mengembangkan pasarnya hingga keluar negeri. 

"Kami sudah melakukan startegi menggandeng Dinas Koperasi dan UKM (Usaha Kecil Menengah) Jawa Timur untuk mencari dan mengangkat pengusaha-pengusaha untuk naik ke pasar ekspor. Jumlah UKM di Jatim mencapai 9 juta dan 2.000 yang sudah siap dan sudah ekspor," ungkap Jufri.

Dari jumlah itu, sekitar 300 sudah memiliki produk bernilai ekspor. Pihaknya memberikan support edukasi menghandle dokumen-dokumen ekspor. Selain itu BNI juga menggandeng perguruan tinggi untuk membantu pendampingan dan identifikasi dari mereka yang dilakukan melakukan penelitian dan karya tulis ilmiah untuk mendukung usaha ini.

Saat ini, peranan pelaku UKM sebagai penyumbang PDRB negara cukup besar. Namun secara volume memang perlu ditingkatkan. Untuk ekspor, pasar menarik yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha di Jatim adalah negara-negara Asean dan Timur Tengah.

"Salah satu yang menarik adalah produk pertanian yang berpotensi besar menjadi produk unggulan. Salah satunya buah mangga dari Jombang. Kemudian handicraft atau kerajinan terkait archipelago," tandas Jufri.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved