Berita Surabaya

Dua Kali Raih Pahlawan Ekonomi, Mariyana Fitri Tetap Peduli Beri Pelatihan Gratis Pada Ibu-ibu

Ibu yang menggembleng saya agar bertahan hidup. Dia juga yang memberi saya prinsip hidup 'Belajarlah jadi orang susah, bukan belajar jadi orang kaya'

Penulis: Sudharma Adi | Editor: Cak Sur
SURYA.co.id/Ahmad Zaimul Haq
Mariyana Fitria 

SURYA.co.id | SURABAYA - Memiliki tekad berjuang dengan kreasi akan menjadi bagian hidup Mariyana Fitria. Dengan adanya kreasi pada usaha kue kering, Fitria mampu dua kali meraih Pahlawan Ekonomi di Surabaya.

Manisnya buah perjuangan dan kreasi telah diraih, namun dia tetap membumi dan berusaha menularkan pengalaman dengan memberi pelatihan pada ibu-ibu.

Perempuan asal Sumenep pada 6 Juli 1973 ini bertutur, saat masih kecil, keluarganya hidup berkecukupan. Ayahnya, M Syafei, dulu adalah Kepala Dinas Pendidikan di Pemkab Bangkalan.

Namun menginjak remaja atau duduk di bangku SMP, hidupnya berubah drastis. Ayahnya meninggal, sehingga tulang punggung keluarga ada di pundak ibunya. Mulailah dia dan empat saudaranya diajari hidup mandiri dengan kreasi yang dimiliki.

“Ibu yang menggembleng saya agar bertahan hidup. Dia juga yang memberi saya prinsip hidup ‘Belajarlah jadi orang susah, bukan belajar jadi orang kaya’,” tuturnya.

Dengan prinsip ini, dia ingin menunjukkan hidup di manapun dan apapun persoalan hidup yang dihadapi, semuanya bisa diatasi dengan tegar. Makanya, ketika ibunya bertahan hidup dengan membuka toko mebel dan kemudian pracangan, dia pun membantu menambah penghasilan dengan membuat handycraft rajutan.

“Kemampuan saya ini juga karena belajar dari ibu. Sering dapat pesanan membuat boneka, dan bisa dapat penghasilan tambahan dari menjual handycraft ini,” paparnya.

Usaha pracangan yang dikelola ibunya tak berjalan, sehingga mereka mengubah usaha dengan berjualan kue basah. Di sinilah kemampuan Fitriya terasah. Dia menguasai cara membuat kue basah dan kering dari ibunya.

Kemampuannya ini terus berkembang hingga dia menamatkan kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata Satya Widya Surabaya.

“Usaha membuat kue kering tetap dilakukan meski hanya momen Lebaran,” ujar perempuan Madura-Tionghoa ini.

Susahnya mencari kerja, tak membuat dia putus asa. Dia lalu mencoba usaha sablon, meski tak bisa berkembang. Peruntungannya mulai tampak ketika dia bekerja di desain house. Di tempat kerja ini, dia belajar desain grafis dan membuat desain pada baju, sarung hingga brosur. “

Saya akhirnya bisa membuat desain untuk kemasan makanan hingga kamus,” ujarnya.

Setelah menikah dan memiliki rumah sendiri, Fitriya tetap mencoba beberapa jenis usaha.

Namun usaha kue kering yang ditekuni sejak 2002 lalu seperti membuka jalan rezekinya. Berawal dari pujian tetangga pada citarasa kue keringnya, dia lalu membuat 10 varian cookies, mulai dari cheese stik, pangsit abon sapi, bagelen, sambel goreng, hingga serundeng.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved