Bisnis

Perusahaan Baja Jaya Pari Steel dan Gunawan Dianjaya Steel Merger

Dua pabrik baja di Surabaya, yaitu PT Jaya Pari Steel Tbk dan PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk sejak Rabu (26/9/2018) telah resmi merger

Perusahaan Baja Jaya Pari Steel dan Gunawan Dianjaya Steel Merger
surabaya.tribunnews.com/sugiharto
Proses pembuatan baja lembaran di pabrik baja Gunawan Dianjaya Steel di kawasan Margomulyo Surabaya, Kamis (27/9/2018). PT Gunawan Dianjaya Steel (GDS) Tbk dan PT Jaya Pari Steel (JPS) Tbk memilih melakukan penggabungan usaha menjadi satu alias merger untuk lebih siap bersaing di pasar industri baja yang semakin ketat. 

Sementara dari sisi kinerja, pihaknya akan lebih efisien dalam berbagai hal. Seperti manajemen, pembelian bahan baku, kontrak satu nama, efisiensi ongkos angkut, kapal, waktu dan lainnya. "Tidak ada PHK dan imbas pada karyawan, kami tetap dengan 500an karyawan," ujar Hadi.

Terkait dengan pasar baja, saat ini kondisinya sama dengan pasar minyak dunia. Harga naik dan turun mengikuti harga Minya dunia. Sementara pasar nasional, masih didorong dengan pembanguan infrastruktur yang masif. GDS mendapatkan porsi lumayan besar terkait proyek jembatan di Papua yang bahan baku plat baja dibeli di GDS dikerjakan oleh perusahan lainnya dengan lokasi perakitan di PT PAL Indonesia.

"Dari jembatan untuk Papua itu ada 6.500 ton baja yang dipakai, sekitar 80 persen dari kami," ungkap Hadi.

Selain itu untuk proyek-proyek nasional, produk GDS bergabung dengan produk baja dari perusahan lain untuk mendukung kebutuhan proyek yang dikembangkan oleh BUMN Karya. Hadi tidak bisa menyebutkan infrastruktur mana yang menggunakan baja GDS, yang pasti pembangunan jalan tol di Jawa Tengah, karena kontur geografis daerahnya, membuat kebutuhan jembatan besar, sehingga kebutuhan baja juga ikut besar.

Sementara terkait dengan persaingan pasar, dengan masuknya produk baja dari Tiongkok akibat imbas perang dagang Tiongkok - Amerika Serikat (AS), GDS mengaku tidak keder. Mengingat pemerintah sudah memberikan regulasi anti dumping dimana ada aturan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) untuk produk impor.

"Kalau hitung-hitungan tenaga kerja, lokasi pabrik, dan lainnya, TKDN kita lebih unggul dan mampu bersaing," ungkap Hadi yang menyebutkan bila GDS saat ini ada di empat besar pabrik baja di Indonesia.

Terkait fluktuatif nilai tukar rupiah atas dolar AS, diakui membuah harga baja ikut naik. Hal itu membuat harga di pasar juga naik. "Tapi untungnya demand tidak sensitif terhadap kenaikan harga baja. Karena memang proyek harus jalan terus," tandas Hadi.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved