Sambang Kampung
Bisnis Jajanan Madumongso Sambil Nikmati Hari Tua Bersama
Hari senang menghabiskan masa tua dengan membuat jajanan madumongso. Baginya, hal yang menyenangkan adalah bisa habiskan waktu dengan istri
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA – Menikmati hari tua bersama pasangan menjadi impian banyak orang, hal ini juga yang menjadi dambaan Hari Subagyo (62) dan Dina Fatmaningsih (61).
Di rumahnya yang berada di Menanggal Indah VIII, Hari dan istrinya sejak dua tahun terakhir menjalankan usaha produk Madumongso dengan nama Berkah Madumongso.
Jajanan tradisional yang berbahan dasar ketan hitam ini awalnya dibuat untuk memenuhi keinginan Dina untuk membuat sendiri makanan favoritnya ini. Sayangnya berbagai resep dan bahan dicoba mengalami kegagalan, hingga saat menemukan resep yang pas.
“Pesanan mulai datang dari teman dan kenalan, makanya kami putuskan buat memproduksinya rutin,” ungkap pria kelahiran Surabaya, 1956.
Bagi Hari, kesibukannya saat ini sangat menyenangkan karena ia dan istri menyukai proses produksi jajanan ini meskipun prosesnya cukup lama. Mulai membuat ketan hitam jadi tape, hingga mengaduk adonan selama tiga jam. Serta mengemasnya serapi mungkin.
“Karena bisa menghabiskan waktu bersama istrinya, jadinya menyenangkan. Apalagi sebelum pensiun saya juga bekerja di bagian Quality Control, jadi saya pahm proses produksi yang baik,”ungkap bapak tiga anak ini.
Kemampuan Hari sebagai seorang quality control sangat berguna dalam menjalankan usaha pembuatan produk Madumongso miliknya. Dia sangat teliti mengontrol prosesnya satu persatu.
Mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi sampai pengemasan sehingga ia bisamendapat berbagai ijin usaha. Bahkan ia sedang mendaftarkan produknya untuk mendapat sertifikasi halal.
“Madumongso buatan kami mempunyai ciri khas teksturnya lembut dan masih terlihat partikel ketan hitamnya. Rasa enak, kemasannya juga dibuat sangat menarik. Sehingga layak dijadikan oleh-oleh untuk diberikan kepada keluarga ataupun relasi,” ujarnya.
Melalui pengalaman pengiriman ke berbagai wilayah di Indonesia, Hari juga berkembang dalam mengemas produknya. Awalnya hanya dikemas sederhana menggunakan kotak mika, sayangnya hasilnya justru tidak rapi jika harus dikirim jarak jauh.
Akhirnya kemasan diubah menjadi kemasan mika kecil berisi 20 biji, kemudian dimasukkan ke dalam karton yang memuat tiga kemasan mika Madumongso.
“Kalau pemasaran awalnya mulut ke mulut seperti arisan, pengajian, hadrah dan lain-lain. Sekarang sudah berkembang online di Instagram, Facebook sampai broadcast Whatsapp,” ungkapnya.
Dengan berkembangnya pemasaran yang dilakukan, Hari bahkan sempat mendapat orderan hingga 150 boks. Selain menggunakan tenaga tambahan dari pembantu, Hari juga dibantu menantu dan keponakannya untuk mengemas Madumongso.
Dina mengungkapkan, citarasa produk mereka yang khas bahkan membuat produk mereka mendapat pesanan dari kota-kota yang memiliki banyak produsen Madumongso. Bahkan madumongsonya juga kerap dijadikan oleh-oleh bagi turis yang menginap di hotel-hotel di Surabaya.
Dina dan Hari ingin berbagi ilmu membantu Kelurahan Dukuh Menanggal, tempat dia tinggal untuk mengkoordinasikan dan membina usaha menengah kecil mikro (UMKM) yang ada di wilayah tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/madumongso-menanggal-indah-surabaya_20180924_220103.jpg)