Berita Surabaya

Potret Bagoes Kukuh Prakoso, Dari Hobi Jalan-Jalan, Kini Miliki Usaha Travel Sendiri

meski usia usahanya masih muda, ia sudah bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp 50 juta per bulan.

Penulis: Delya Octovie | Editor: irwan sy
surya/delya octovie
Bagoes Kukuh Prakoso menunjukkan akun Instagram usaha travel miliknya, Fix Holiday, Kamis (13/9/2018). Ia sempat mendapat tentangan dari orang tua karena menjalani pekerjaan yang tidak sesuai bidang kuliahnya. Namun ia berhasil meyakinkan dengan travelnya yang semakin maju dan berpenghasilan hingga Rp 50 juta per bulan. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Menjadikan hobi sebagai pekerjaan merupakan impian banyak orang, tak terkecuali Bagoes Kukuh Prakoso (23). Bagoes telah menikmati hobi travel sejak lama, namun baru ketika ia berada di semester akhir kuliah, ia berpikir untuk menjadikannya sebuah usaha.

“Awalnya saya ingin menjadi auditor keuangan. Memang gajinya besar, sempat saya magang di sebuah perusahaan sebagai auditor. Tetapi kok waktunya seperti itu. Saya tidak mau menukar waktu dengan uang, apalagi nanti kalau berkeluarga, kan pasti inginnya menghabiskan waktu sama anak,” tuturnya, Kamis (13/9/2018).

Lulusan Akuntansi Universitas Airlangga itu kemudian memutuskan membuat agen travelnya sendiri pada Februari 2016, tanpa pengetahuan dasar di bidang pariwisata. Orangtuanya sempat menentang keputusannya.

Mereka menyayangkan kuliahnya yang tampak sia-sia karena ia memilih jalur pekerjaan yang berbeda.

“Orangtua bilang, untuk apa susah-susah kuliah, malah bekerja seperti ini. Tetapi saya ingin membuktikan ke orangtua kalau saya bisa. Cara membuktikannya ya dengan menunjukkan hasil kerja saya,” jelas alumnus SMA Negeri 16 Surabaya itu.

Ia mengira usaha agen travel tidak sulit, cukup dengan memiliki pengalaman sudah pernah pergi ke tempat yang dituju, maka ia sudah bisa menjadi agen yang baik.

Namun rupanya tak semudah itu. Bagoes pun memulai tahun pertama usaha yang kini bernama Fix Travel itu dengan sistem yang masih amburadul.

“Ternyata banyak hal-hal lain yang harus kami pelajari. Travelling sendiri dengan memandu orang lain jalan-jalan itu sangat berbeda. Apalagi jika yang ditangani grup besar, handlingnya juga beda. Kita harus memahami karakter tiap orang, ada yang mudah, tetapi ada juga yang lemah atau cerewet,” ungkapnya.

Berbagai pengalaman unik dengan pengguna travelnya pun telah dirasakan Bagoes, tetapi ia berusaha menjadikannya pelajaran.

Satu di antara pengalaman yang sangat membekas adalah ketika ia membawa empat perempuan asal Malaysia ke Air Terjun Madakaripura di Gunung Bromo, Malang.

Dari parkiran menuju air terjun, mereka dianjurkan naik ojek, karena jarak tempuhnya sekitar 3 kilometer.

“Tetapi mereka tidak mau dibonceng laki-laki, malah mintanya menyetir sendiri. Setelah negosiasi, tetap berangkat tapi dikasih pembatas tas antara supir dan penumpang. Ada beberapa yang memang sepertinya absurd tetapi itu yang membuat menarik,” kenangnya.

Selain soal pemahaman terhadap pengguna travel, Bagoes juga sempat kesulitan dengan pekerjaannya yang mengharuskannya menjadi pribadi ramah dan terbuka, namun ia adalah sosok yang introvert.

Ia mengaku sebagai orang yang tidak percaya diri, tetapi mau tak mau harus melawan demi pekerjaannya. Kini, Fix Travel miliknya telah berkembang lewat pengalaman-pengalaman tersebut.

Klien-klien perusahaan besar pun berhasil digaet, sehingga meski usia usahanya masih muda, ia sudah bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp 50 juta per bulan.

“Pertamanya memang sulit. Ketika masuk, rata-rata sudah banyak pemain kecil maupun besar. Membuat agen travel memang mudah, tetapi konsistensinya yang sulit. Kalau sudah dijalani, ternyata di dalamnya masih banyak pasar yang bisa dikerjakan,” pungkasnya.

BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved