Berita Ponorogo

Larungan dan Risalah Doa di Telaga Ngebel Ponorogo, Wujud Syukur Kepada Tuhan

Setiap 1 Suro atau tahun baru Hijriyah, masyarakat Ponorogo menggelar acara ritual Larung Sesaji dan Risalah Doa di Telaga Ngebel.

Larungan dan Risalah Doa di Telaga Ngebel Ponorogo, Wujud Syukur Kepada Tuhan
surabaya.tribunnews.com/rahadian bagus
Larungan Telaga Ngebel, di Desa Ngebel, Kecamatan Ngebel, Ponorogo setiap menyambut tahun baru Hijriyah. 

SURYA.co.id|PONOROGO - Setiap tahun, pada 1 Suro atau tahun baru Hijriyah, masyarakat Ponorogo menggelar acara ritual Larung Sesaji dan Risalah Doa di Telaga Ngebel.

Larungan dan Risalah Doa memiliki makna spiritualitas tinggi bagi masyarakat Ponorogo, khususnya masyarakat yang tinggal di kawasan Telaga Ngebel.

Ketua Panitia Larungan Telaga Ngebel, Suryadi, mengatakan tradisi larungan merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas kenikmatan yang telah diberikan Tuhan selama satu tahun terakhir. Malam sehari sebelumnya juga digelar acara berdoa bersama dan berziarah di makam kuno yang ada di Desa Ngebel.

“Ini menjadi bentuk rasa syukur terhadap kenikmatan yang diberikan Tuhan. Tadi malam kami juga melakukan doa bersama dengan menyalakan obor dan berziarah di makam kuno yang ada di Ngebel,” kata Suryadi kepada wartawan, Selasa (11/9/2018) siang.

Selain memiliki makna spiritual, Ritual Larung Sesaji dan Risalah Doa di Telaga Ngebel juga menjadi tanda berakhirnya rangkaian Grebeg Suro dan Festival Reog 2018.

Ada delapan tumpeng Buceng diarak terlebih dahulu mengelilingi telaga ngebel sepanjang hampir empat kilometer. Arak-arakan tumpeng didahului dengan tari-tarian, Tari Gambyong, Ombyak Suran, dan juga reog khas Ponorogo.

Satu di antara tumpeng yang diarak merupakan Gunungan Utama. Tumpeng berisi beras merah ini akan dilarung dan di tengah telaga Ngebel. Sedangkan, tumpeng lainnya berisi hasil bumi, yang disebut Buceng Purak akan diperebutkan masyarakat di lokasi.

Suryadi mengatakan, tidak banyak yang berbeda dari ritual tahun ini dengan ritual tahun sebelumnya. Bedanya, pada tahun ini semakin meriah dengan adanya Kakang Senduk Ponorogo.

"Kemasannya yang sedikit berbeda, ada tarian Ombak Tri Murti, dan juga ada kakang senduk," katanya.

Semetara itu, Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, mengatakan larungan tumpeng di Telaga Ngebel ini merupakan simbol untuk membersihkan kotoran dan sifat-sifat buruk sebelum memasuki tahun yang baru.

"Ini merupakan simbol, membuang atau melarutkan semua hal yang tidak baik selama setahun, untuk menyambut tahun baru yang lebih baik," kata Ipong.

Ipong menuturkan, antusiasme masyarakat untuk melihat dan menikmati tradisi ini cukup tinggi. Tradisi tersebut bisa menjadi salah satu obyek wisata untuk memperkuat pariwisata Ponorogo.

“Larungan Telaga Ngebel ini berdasarkan legenda asal muasal Telaga Ngebel. Tradisi ini bisa menjadi modal untuk memperkuat pariwisata di Ponorogo. Seperti di Bali, tradisinya kan juga kuat. Akan kita kembangkan terus, kita lestarikan terus. Ujungnya meningkatkan perekonomian di Ponorogo.” jelas Ipong.

Pemerintah berjanji akan memperbaiki sarana dan prasarana yang ada di Telaga Ngebel. Sebab, menurutnya kekurangan di obyek wisata ini adalah faktor kurangnya sarana dan prasarana.

Penulis: Rahadian Bagus
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved