Berita Surabaya

Dampak Sekolah Swasta Kekurangan Murid, Jual Aset untuk Gaji Guru, Dindik Tawarkan Solusi ini

Kepala Musyarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Erwin Darmoko menuturkan hingga masa studi tahun ajaran berjalan mulai terasa.

Dampak Sekolah Swasta Kekurangan Murid, Jual Aset untuk Gaji Guru, Dindik Tawarkan Solusi ini
surya/habibur rohman
Foto ilustrasu aneka kegiatan siswa smp. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dampak sistemik akibat sekolah swasta kekurangan murid mulai dirasakan. Sebagian dari sekolah saat ini tengah berutang kepada Yayasan bahkan ada menjual aset untuk menutupi operasional sekolah. Tidak saja kesulitan membayar tagihan listrik dan biaya kantor, tapi juga menggaji guru. 

Kepala Musyarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Erwin Darmoko menuturkan bahwa hingga masa studi tahun ajaran berjalan sekitar sebulan ini mulai terasa. Kekurangan murid 30 hingga 50 persen di Surabaya berdampak sangat signifikan. 

 "Banyak yang hutang dan jual aset demi menggaji guru. Ini setidaknya dampak awal setelah kami kekurangan murid secara drastis. Ini merata di sekolah swasta," kata Erwin di Komisi D DPRD Surabaya. 

Hal itu terungkap dalam pertemuan Dindik, MKK Swasta, dan Komisi D DPRD Surabaya, Selasa (28/8/2018).

Tidak hanya itu, karena banyak guru swasta yang ikut tunjangan profesi pendidik (TPP) mereka mendapat tugas tambahan mengajar atau bertugas di sekolah negeri. Kondisi ini membuat kaget Erwin. 

Mereka bahkan ada yang diperkenankan oleh Dinas Pendidikan mengajar ke Sekolah negeri agar genap 24 jam.

"Kami juga lebih kaget karena ada surat dari Dindik untuk tawaran menjadi guru outsourching ke sekolah negeri. Bagaimana nasib kami," ucap Erwin. 

Namun, kondisi swasta yang kekurangan murid menurut Kepala Dindik Surabaya Ihsan tidak perlu dikaitkan degan Bopda.

"Apalagi sampai utang dan menjual aset. Seharusnya pihak yayasan menggunakan Dana Abadi yayasan untuk operasional sekolah," kata Ihsan.

 Ihsan mengaku sudah bertemu dengan para MKKS swasta. Namun, satu meja bersama DPRD baru kali ini. Ihsan menyebut sudah enam kali pertemuan. Dindik pun minta data sekolah swasta yang terdampak karena kekurangan murid. 

 "Kami pun menawarkan solusi kepada semua guru bersama pihak sekolah swasta. Karena harus 24 jam harus ditutupi dengan kegiatan lain. Tidak harus mengajar di kelas tapi bisa dengan tugas tambahan menjadi wali kelas atau menjadi pembina ekstra sekolah," kata Ihsan.

Namun, karena belum cukup untuk mengkonversikan menjadi 24 jam, Dindik menawarkan sejumlah tambahan, yakni menjadi pembina ekstra maupun wali kelas. 

 "Karena belum cukup, guru swasta diperbantukan ke sekolah lain. Namun karena belum cukup, para guru itu diperbolehkan mengajar di sekolah negeri, namun seizin  yayasan," kata Ihsan. 

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved