Jumat, 1 Mei 2026

Berita Surabaya

Tak Ingin Ospek Perploncoan, UPH Surabaya Pilih Ajak Mahasiswa Baru dan Lama Bikin Event

Kegiatan orientasi mahasiswa alias ospek tak perlu dilakukan dengan melibatkan perploncoan bagi Universitas Pelita Harapan (UPH) Surabaya

Tayang:
Penulis: Delya Octovie | Editor: Cak Sur
SURYA.co.id/Delya Octovie
Ronald Surya Putra, Executive Director UPH Surabaya diapit William Lokman dan Edbert Lokman, mahasiswa UPH pemilik Marketworld. Mereka menggelar bazaar Flip Flop sebagai penutupan ospek kampus di Exhibition Hall Galaxy Mall Surabaya, Sabtu (18/8/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA – Kegiatan orientasi mahasiswa alias ospek tak perlu dilakukan dengan melibatkan perploncoan bagi Universitas Pelita Harapan (UPH) Surabaya.

Mereka justru ingin mahasiswa lama dan baru mengakrabkan diri, serta mengembangkan potensi diri masing-masing.

Baca: Gelar Bazaar Flip Flop, Kakak Beradik Mahasiswa UPH Ajak Masyarakat Berpikir dari Dua Sisi

“Memang konsep ospek kami di UPH tidak ada perploncoan. Jadi lebih ke seminar, mengenalkan kehidupan kuliah, games, dan partisipasi dalam event,” tutur Ronald Surya Putra, Executive Director UPH ketika ditemui di bazaar Flip Flop oleh Marketworld di Exhibition Hall Galaxy Mall, Surabaya, Sabtu (18/8/2018).

Permainan yang dilakukan tak hanya mengakrabkan mahasiswa baru, tetapi juga mahasiswa baru dan yang lama.

Mahasiswa lama tak hanya berperan sebagai panitia saja, tetapi mereka ikut berkolaborasi dalam permainan selama ospek.

Sejak 2012, ospek UPH mengembangkan diri dalam ranah event komersil.

Karena banyak mahasiswa lama maupun alumni yang sering mengadakan bazaar di mal-mal Surabaya, acara penutupan ospek mahasiswa baru dilakukan di bazaar-bazaar tersebut.

Di tahun ini, bazaar yang menjadi wadah penutupan ospek UPH adalah Flip Flop dari Marketworld, milik dua mahasiswa aktifnya yakni William Lokman dan Edbert Lokman.

“Nah biasanya mahasiswa lama akan menjadi pengisi acara, kalau yang sekarang ada band Éclat Story yang merupakan alumni UPH. Nanti mahasiswa baru akan mengisi akhir acara dengan flashmob,” jelasnya.

Ospek ala UPH bagi Ronald memiliki kelebihan sendiri dibanding ospek dengan sistem perploncoan.

Ia menyebut setiap mahasiswa punya talenta unik serta kelebihan-kelebihan lain yang tidak bisa dipaksa.

Jika dilakukan secara ‘ramah’, potensi mahasiswa baru akan lebih tergali, serta misi pengembangan dan penguatan karakter mahasiswa mampu dicapai.

“Kami berusaha menunjukkan keunikan tiap mahasiswa, dan mendorongnya. Seperti William dan Edbert ini, tentu kami bangga punya mahasiswa seperti mereka. Tapi itu memang keunikan yang kami punya. Kalau kami melihat si A berpotensi di bidang event, kami dorong,” ujarnya.

Satu di antara mahasiswa S2 Bisnis Manajemen UPH yakni Ken Sugijanto, menceritakan bagaimana kampus banyak membantu mahasiswanya, dan sifat tersebut diturunkan dari mahasiswa lama ke yang baru.

“Dulu saya punya project bazaar ya dibantu marketingnya, strateginya, meskipun saya sudah lulus S1 waktu itu, saya tetap dibantu. Kemarin ada alumni yang punya pabrik plastik, lalu UPH menawarkan kerja sama. Intinya UPH tidak melupakan alumni, dan gurunya banyak yang muda-muda jadi kalau dicurhati lebih paham,” ungkapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved