Sambang Kampung Puilosari

Galakkan Tanaman Toga sejak 2014, Warga Kampung Pulosari kini Produksi Jamu Sendiri

Wajah Kampung Pulosari kini benar-benar berbeda dibanding pada 1980-an. Setidaknya itu yang dirasakan Didik (49).

Galakkan Tanaman Toga sejak 2014, Warga Kampung Pulosari kini Produksi Jamu Sendiri
surya.co.id/nuraini faiq
Warga Pulosari memperlihatkan jamu berbahan tanaman Toga bikinannya. 

“Itu bagus untuk kesehatan lambung. Kalau yang sering saya buat ya sinom, itu dua hari sekali saya buat. Saya mengambil daunnya di rumah tetangga saya di depan sungai,” ujar ibu dua anak yang akrab disapa Andri itu.

Jamu botolan Andri laris manis dikalangan tetangga dan kampung sebelah-sebelahnya.

Jamu yang ia jual dengan harga Rp 5.000 tersebut kadang dibeli untuk dijual lagi, ada pula tetangga yang menjualnya di kampus.

Andri sempat menjual jamunya di sebuah sekolah perhotelan Surabaya, namun ia berhenti karena suatu alasan tertentu.

“Jadi sekarang kalau berjualan ya waktu ada pesanan begini saja. Kadang jamunya saya bawa ke acara-acara kumpul-kumpul tetangga, rapat ibu-ibu PKK, sama kalau ada pameran-pameran begitu,” terangnya.

Andri merasa bersyukur banyak orang yang merasa cocok dengan jamu buatannya.

Ia juga menjamin jamunya tak berbahaya, karena diproduksi tanpa bahan pengawet.

“Semuanya saya buat dari tanaman TOGA yang ditanam tetangga sendiri, tanpa bahan pengawet, sehingga aman. Soal daya tahan, kalau di freezer dalam kulkas bisa tahan sampai 10 hari,” imbuhnya.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved