Berita Banyuwangi

‎Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi Kian Diminati Wisatawan

Tumpeng sewu merupakan tradisi suku Using Kemiren sebagai wujud syukur mereka kepada Yang Maha Kuasa.

‎Tradisi Tumpeng Sewu Banyuwangi Kian Diminati Wisatawan
surya/haorrahman
Tradisi Tumpeng Sewu di Desa adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Desa adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, memilik tradisi menggelar Tumpeng Sewu atau seribu tumpeng . Tradisi ini kian diminati wisatawan.

Tumpeng sewu digelar tiap 1 Dzulhizah, yang tahun ini jatuh pada, Minggu (12/8) malam. Gelaran ini kini menjadi atraksi wisata Banyuwangi yang diminati wisatawan.

"Pemerintah konsisten mengangkat tradisi ini dalam sebuah festival. Mudah-mudahan gelaran ini juga bisa mengangkat ekonomi masyarakat Kemiren,” kata Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widiyatmoko.

Menurut Yusuf, tradisi ini merupakan simbol masyarakat yang hidup rukun, guyub dan saling bergotong royong.

“Kekhasan semacam ini banyak diminati wisatawan. Ditambah lagi keramahtamahan masyarakatnya, even ini menjadi favorit bagi para wisatawan,” sambungnya.

Sebelum malam tiba, sejak sore warga telah menghampar tikar di depan rumahnya untuk persiapan gelaran tradisi ini.

Malam harinya, ribuan masyarakat dari berbagai penjuru desa maupun wisawatan hadir di desa Kemiren untuk menikmati ribuan tumpeng dengan menu utama pecel pithik, yang disajikan berderet-deret di sepanjang jalan desa.

Turis asal Prancis, Emma Radenac (30) yang datang bersama suaminya Regis Souris, mengaku sengaja datang awal ke Desa Kemiren agar bisa melihat ritual Tumpeng Sewu.

"Ini sangat menakjubkan. Semua orang membuat tumpeng untuk dimakan bareng-bareng,” ujar Radenac.

Tumpeng sewu merupakan tradisi suku Using Kemiren sebagai wujud syukur mereka kepada Yang Maha Kuasa. Usai dibacakan doa, ritual ini dimulai.

Di bawah temaram api obor, semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar maupun karpet yang tergelar di depan rumah. Di hadapannya tersedia tumpeng yang ditutup daun pisang.

Sesepuh Desa Kemiren, Suhaimi, menuturkan sebelum makan tumpeng sewu warga diajak berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala.

Setiap rumah warga Kemiren mengeluarkan minimal satu tumpeng yang diletakkan di depan rumahnya. Pagi harinya sebelum dimulai selamatan masal, warga telah melakoni ritual mepe kasur.

Penulis: Haorrahman
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved