Berita Surabaya
Kampung Lawas Maspati Mendapatkan Penghargaan dari Lembaga Friendship Force International
Selama satu bulan, staff Lembaga Friendship Force International yang berjumlah 12 orang tinggal di Kampung Lawas Maspati
Penulis: Danendra Kusumawardana | Editor: Cak Sur
SURYA.co.id | SURABAYA - Kecanggihan teknologi dapat menggerus minat pemuda untuk mencintai budaya dan ke arifan lokal Indonesia. Tak ingin hal itu terjadi, pemuda Kampung Lawas Maspati diwajibkan untuk terus melestarikan dengan cara melakukan aksi nyata oleh ketua RW 6 Sabar Swastono.
Sabar mengatakan, kearifan lokal seperti berjabat tangan dan bertegur sapa harus tetap di jaga oleh pemuda RW 6 kepada para tamu maupun warga.
Selain itu, untuk mengurangi kecanduan pada gadget, Sabar bersama warga mendesain kampung dengan berbagai macam mainan tradisional menggunakan media paving seperti engklek dan ular tangga. serta ada pula permainan lawas lain yakni dakon dan egrang.
"Kebudayaan lokal harus dipertahankan meski zaman telah modern. Sebab kebudayaan dapat mempersatukan bangsa," kata Sabar.
Pelestarian kearifan dan kebudayaan lokal terus dilakukan secara konsisten. Sehingga, banyak warga negara asing (WNA) yang penasaran serta tertarik berkunjung ke Kampung Lawas Maspati untuk berwisata dan belajar kebudayaan Surabaya.
"Kami sulap kampung tengah kota Maspati menjadi destinasi wisata dengan berbagai macam kearifan lokal didalamnya," terangnya.
Baru-baru ini tepatnya Selasa (31/7/2018) salah satu Lembaga Friendship Force International yang berkantor pusat di New York mengunjungi Kampung Lawas Maspati dan memberikan penghargaan.
Nampaknya kampung tersebut sudah tersohor di beberapa negara, sebab mereka menggunakan media sosial untuk memperkenalkan kampungnya. Selain itu, dengan cara getok tular dari satu WNA yang pernah berkunjung ke WNA lain.
"Sebelum berkunjung ke sini mereka melakukan survey terlebih dahulu. Setelah itu mereka penasaran dan berniat berkunjung ke Kampung Lawas Maspati. Kampung Lawas Maspati juga diberikan penghargaan langsung oleh direktur Lembaga Friendship Force International," ucap Sabar saat diwawancarai Sabtu (4/8/2018)
Selama satu bulan, staff Lembaga Friendship Force International yang berjumlah 12 orang tinggal di Kampung Lawas Maspati. Para warga memberikan edukasi tentang dolanan tradisional, makanan dan lagu-lagu yang mengisahkan Kota Surabaya, dan sikap.
"Para tamu tersebut membaur dengan warga melakukan interaksi dan belajar kebudayaan," jelasnya.
Karena konsintensi para warga menjaga kebudayaan dan kearifan lokal, tak jarang Kampung Lawas Maspati mendapatkan penghargaan baik nasional maupun internasional.
Saat ini Sabar telah membentuk ketua RT cilik yang bertugas memonitor para pemuda agar senantiasa melestarikan Kebudayaan.
"Kami yakin bisa kembangkan wisata Surabaya melalui Kampung Lawas Maspati. Karena kalau warga lokal pastinya bosan dengan pemandangan seperti ini (kampung), kalau untuk bule pastinya mereka tertarik,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/penghargaan-kampus-lawas-maspati_20180804_232137.jpg)