Berita Surabaya
Ekspedisi Bengawan Solo Hulu-Hilir Himapala Unesa Amati Pencemaran Sungai
"Sudah 20 hari tim kami mengarungi sungai terpanjang di pulau Jawa ini, totalnya sudah menempuh 344 kilometer dari...
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Cak Sur
SURYA.co.id | SURABAYA - Menggunakan 1 unit perahu karet dan 1 unit perahu rakit berbahan pipa, 10 Mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Negeri Surabaya (Himapala Unesa) memulai Ekspedisi Bengawan Solo Hulu-Hilir.
Titik awal pengarungan dimulai di Bendungan Serbaguna Wonogiri pada 16 Juli 2018 dengan dilepas oleh pihak Perum Jasa Tirta.
M Syahrul Khoir, Ketua Pelaksana Ekspedisi tim mengungkapkan dalam ekspedisi ini mereka mentarget pengarungan hingga 25KM per hari dengan estimasi belum ada kendala yang berarti.
“Sudah 20 hari tim kami mengarungi sungai terpanjang di pulau Jawa ini, totalnya sudah menempuh 344 kilometer dari total panjang sungai 498 kilometer,” ungkap mahasiswa jurusan Administrasi Publik ini.
Menurutnya,tim yang beranggotakan mahasiswa mulai dari semester tiga hingga lima lintas jurusan ini sejak dari hulu hingga wilayah Sukoharjo sudah menemui Daerah Aliran Sungai (DAS) dipenuhi oleh batuan padas.
Hal ini terjadi karena pendangkalan sungai oleh batuan kecil dan tanah yang berjarak kurang dari 1KM di tiap batuan hingga menciptakan riam-riam air yang cukup membuat perahu rakit tidak dapat melaju dengan lancar.
“Memasuki daerah Surakarta-Karanganyar-Sragen batuan padas semakin banyak dan menciptakan riam-riam air yang lebih besar. Jadi beberapa lokasi tim harus mengangkat perahu dan logistik ke darat terlebih dahulu untuk menghindari kerusakan pada perahu,”lanjutnya.
Memasuki minggu ketiga pengarungan, lanjutnya, tim melintasi kawasan Bojonegoro, Jawa Timur yang memiliki penampang sungai yang lebih lebar dan sungai yang cukup dalam. Angin kencang dari arah berlawanan juga cukup menghambat perjalanan tim, hingga sampai di desa Cangaan, Kanor, Bojonegoro.
“Jadi saat ini kami masih di Bojonegoro, tim merencanakan akan tiba di desa Ujung Pangkah, Gresik pada tanggal 13 Agustus 2018,” tambah Aldhiyansyah Noerman Ali Pratama, anggota ekspedisi ketika dihubungi melalui pesan Whatsapp.
Dikatakan Aldhi, tim ekspedisi Bengawan Solo Hulu-Hilir juga melakukan penelitian kualitas air sekaligus mengamati pencemaran sungai sepanjang hulu-hilir Bengawan Solo hasilnya. Pencemaran ini ditemukan di sungai sejak daerah Sukoharjo, Jawa Tengah hingga daerah Ngawi, Jawa Timur.
“Pencemaran sungai didominasi oleh limbah rumah tangga hingga limbah industri rumahan dan pabrik sepanjang Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo, limbah industri yang ditemukan adalah limbah industri tekstil dan limbah bahan kimia,” ujar mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia ini.
Ia menceritakan, sejak wilayah Sragen hingga Ngawi warna air sungai hitam pekat disertai bau menyengat. Saat mengarungi kawasan ini, kulit salah satu anggota sempat terasa gatal. Dan air sungai sudah tidak layak konsumsi.
Memasuki kawasan Bojonegoro, Jawa Timur, warna air kembali coklat warna normal air sungai sejak pertemuan antara anak sungai Bengawan Solo di daerah Cepu-Padangan.
“Tetapi kami menemukan tumpahan minyak di aliran sungai yang diperkirakan berasal dari tumpahan oli dari penambang pasir yang mendominasi sejak daerah Margomulyo hingga kawasan Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur,” lanjutnya.
Daerah Aliran Sungai memberi pengaruh besar terhadap warga sekitar bantaran sungai Bengawan Solo, melalui analisa tim, lanjutnya, terbukti di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo masih menjadi sumber air induk untuk irigasi persawahan dan masih menjadi sumber air alami untuk warga di sekitaran Margomulyo, Bojonegoro.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/ekspedisi-bengawan-solo_20180804_181836.jpg)