Berita Pendidikan Surabaya

Siswa SMAK Frateran Juara Olimpiade Fisika Internasional, Tahun Lalu Johanes Gagal Seleksi

"Tahun lalu hanya lolos sampai seleksi tahap kedua, tetapi masih ingin coba lagi. Untuk kompetisi tahun ini saya coba lagi."

Siswa SMAK Frateran Juara Olimpiade Fisika Internasional, Tahun Lalu Johanes Gagal Seleksi
surya/sulvi sofiana
Johanes menunjukkan medali emas Olimpiade Fisika Internasional atau International Physics Olympiad (IPhO) 2018 di Lisbon, Portugal, Rabu (1/8/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kedatangan Johanes (17) ke SMA Kristen Frateran Surabaya disambut meriah . Hal ini setelah dia meraih medali emas dalam Olimpiade Fisika Internasional atau International Physics Olympiad (IPhO) 2018 di Lisbon, Portugal.

IPhO diikuti siswa sekolah menengah dari 87 negara yang berkompetisi meraih nilai tertinggi dalam ujian yang disiapkan Komite Olimpiade Fisika Internasional. Kompetisi itu berlangsung di Lisbon pada 21 sampai 29 Juli 2018.

Memakai baju biru, Johanes yang baru menuntaskan pendidikannya tahun ini di SMA K Frateran mengungkapkan, ia mengikuti olimpiade tingkat dunia ini setelah tahun lalu gagal menjadi wakil.

"Tahun lalu hanya lolos sampai seleksi tahap kedua, tetapi masih ingin coba lagi. Untuk kompetisi tahun ini saya coba lagi dengan terus belajar dan akhirnya lolos dengan 4 perwakilan lain untuk bidang Fisika," ungkap pria yang hobi mengikuti berbagai kompetisi sains sejak SD ini.

Putra tunggal pasangan Alim Suhardjo dan Jeung Yen Chen ini mengungkapkan Fisika menjadi sesuatu yang menarik baginya. Mengerjakan soal Fisika menurutnya seperti teka teki yang selalu menimbulkan rasa ingin tahu.

Sehingga ia selalu menikmati proses pembinaan,karantina hingga seleksi dan kompetisi tingkat internasional tersebut.

"Totalnya ada lima soal saat kompetisi. Dua soal eksperimen di hari pertama dan tuga soal teori di hari kedua,"ujarnya.

Menurutnya soal eksperimen begitu menarik hanya saja membutuhkan waktu lama untuk mengerjakan. Dari waktu yang disediakan selama lima jam, Johanes mengungkapkan hanya mampu menyelesaikan hingga 60 persen. Demikian pula peserta dari negara lain tidak ada yang mampu menuntaskan eksperimen.

"Soal eksperimen tentang transistor dan elastisator itu panjang jadi pemahamannya lama. Dan banyak peserta lain yang nggak selesai. Hari kedua soal teori, satu soal bisa lebih dari 3 halaman," lanjutnya.

Dari hasil skor keseluruhan, menurutnya peserta dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Iapun sempat berbincang dengan peserta lain yang memang merasa soal olimpiade kali ini berbeda tingkatannya dengan soal olimpiade lainnya.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved