Citizen Reporter

Peduli dengan Nyemplung Kali

Ada kepercayaan yang berkembang di masyarakat, yang menyatakan popok dan pembalut tidak boleh dibakar.

Peduli dengan Nyemplung Kali
ist

Sampah menjadi isu yang selalu menghiasi pemberitaan lingkungan hidup. Salah satunya adalah sampah yang ada di lautan. Indonesia menjadi salah satu penyumbang sampah laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.

Salah satu faktor yang membuat volume sampah di laut bertambah adalah aliran sungai. Tidak dapat dimungkiri, beberapa sungai besar yang ada di Indonesia melewati perkotaan dan pemukiman padat penduduk.

Ditambah perilaku masyarakatnya yang membuang sampah ke sungai, maka sudah dipastikan banyak sampah utamanya plastik yang menumpuk di hilir dan akhirnya bermuara di lautan.

Itulah salah satu motif di balik munculnya gerakan Sabers Pungli (Sapu Bersih Sampah Nyemplung Kali) di Kota Batu. Itu gerakan bersih-bersih sungai dengan melibatkan beragam elemen masyarakat setiap hari.

Kegiatan itu dilaksanakan di sekitar Kali Brantas Jembatan Bendo Tawang Argo, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu, Sabtu (28/7/2018).

Peserta yang terlibat antara lain BPBD Kota Batu beserta sukarelawannya, Dinas Lingkungan Hidup, Tim Sabers Pungli, Sahabat Air dari Lasah, SMK Negeri 1 Tulungagung, GILS (Great Indonesian Leader Summit) yang menghadirkan peserta dari 34 provinsi, dan komunitas BRO. Total jumlah peserta 115 orang.

Dengan bermodal karung goni dan sarung tangan plastik, para peserta mulai melakukan aksi pada pukul 14.00 hingga berakhir pada pukul 16.00. Total ada 3 ton sampah yang dapat diangkat dari Kali Brantas yang melewati 17 kabupaten kota di Jawa Timur itu.

Mayoritas sampah yang ditemui adalah sampah popok bayi dan pembalut. Itu tak lepas dari kepercayaan yang berkembang di masyarakat, yang menyatakan kedua sampah itu tidak boleh dibakar.

Mereka menganggap solusi yang paling baik adalah dengan membuangnya ke kali/sungai. Ketika itu dilakukan, tentu merugikan ekosistem yang hidup di kali.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penempelan poster larangan membuang sampah di sungai pada beberapa titik. Ada juga diskusi ekologi menjadi penutup serangkaian acara Sabers Pungli.

Ada beberapa pembicara yang hadir, di antaranya Herman Angga selaku project leader, Catur Wicaksono seorang praktisi sampah, hingga Mad Berlin yang bercerita terkait kebudayaan peradaban yang berkembang di aliran sungai.

“Nggak nyangka juga sebenarnya, jauh-jauh datang ke Batu malah suruh mengambil sampah pampers dan pembalut di Sungai Brantas. Akan tetapi, banyak manfaat dari kegiatan ini,” ucap Fajri, peserta asal Padang.

Moh Wahyu Syafi’ul Mubarok
Mahasiswa Fisika Universitas Airlangga
Instagram: @pembuat_jejak25

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved