Berita Entertainment

Lewat 'Max', Luhur Kayungga Ajak Masyarakat Berpikir Realistis di Tengah Kehilangan Panutan  

"Situasi seperti itulah yang ingin kami gambarkan dalam pertunjukan teater berjudul "Max" ini.

Lewat 'Max', Luhur Kayungga Ajak Masyarakat Berpikir Realistis di Tengah Kehilangan Panutan  
surya/pipit maulidiya
TEATER - Geladi bersih pertunjukan teater berjudul Max oleh Luhur Kayungga. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Di tengah situasi modernisasi, banyak tokoh politik, pemuka agama, dan para pemimpin yang mulai kehilangan marwahnya.

Mereka kebanyakan terjebak dalam lingkaran politik uang, karena kebutuhan makan dan bersenang-senang. Mengejar nafsu, membuat mereka tak lagi peduli moralitas. Tak heran kasus korupsi, kejahatan seksualitas, dan ketidakadilan semakin menjadi.

Masyarakat pun semakin bingung, kehilangan sandaran, dan tak punya panutan.

"Situasi seperti itulah yang ingin kami gambarkan dalam pertunjukan teater berjudul "Max" ini. Jalan cerita menyadur dari novel berjudul One Flew Over the Cuckoo's Nest karya Ken Kesey," kata Luhur Kayungga, Sutradara pertunjukan teater Max, saat ditemui Surya.co.id Gladi Bersih di Taman Budaya Jawa Timur Cak Durasim, Surabaya, Senin (30/7/2018).

Luhur mengatakan, pada akhir pertunjukan akan ditarik kesimpulan pertunjukanteater Max mengajak masyarakat untuk berakal sehat, berpikir jernih melihat masalah.

"Ya ajakan untuk berpikir realis setiap menanggapi masalah, karena sudah kehilangan para panutan. Seperti yang dilakukan Max dalam situasi ini, dia berpegang pada akal sehat, dia akan melawan meski sendiri," tambah pria yang pernah membawakan pertunjukan monolog Max tahun 2014.

Set panggung menganalogikan rumah sakit jiwa karena situasinya menunjukkan tidak ada yang bisa diketahui mana yang waras dan mana yang edan seperti digambarkan si penulis novel.

Namun Luhur mengimajinasikan rumah sakit ini dalam bentuk tanah dan sawah (pertanian), di mana sebenarnya para oknum pemimpin itu merebutkan persoalan perut atau makan.

"Makan ini adalah salah satu problem uang yang kita telusuri. Makan bagi masyarakat saat ini dekat dengan nasi, jadilah kami mengambil konsep pertanian," tambahnya.

Pementasan akan digelar malam ini, Senin (30/7) pukul 20.00 WIB di Taman Budaya Jawa Timur, Cak Durasim, Surabaya melibatkan delapan orang sekaligus.

Mereka adalah Sri Mulyani, Galuh Tulus Utama, Muhammad Saleh, Slamet Gaprax, Ridho Leng, Naryo Pamenang, dan Tri Bronto Wibisono.

"Pementasan ini memang tidak menggambarkan tokoh Max secara konvensional, namun membicarakan substansi dan fenomena kehidupan Max," tambahnya menjelaskan pertunjukan yang berlangsung 45 menit itu. Pipit Maulidiya

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved