Berita Surabaya

Jadi Terdakwa Kasus Keterangan Palsu, Guru Besar Ubaya Menangis Saat Baca Pembelaan

Prod Dr Lanny Kusumawati, Guru Besar Ubaya yang jadi terdakwa kasus keterangan palsu menangis saat baca pleidoi. Ini sebabnya

surabaya.tribunnews.com/sudharma adi
Prof Dr Lanny Kusumawati, guru besar Ubaya saat mengikuti persidangan di PN Surabaya 

SURYA.co.id | SURABAYA - Terdakwa kasus keterangan palsu pada akta otentik berupa cover notes, Prof Dr Lanny Kusumawati rupanya tak ingin merasakan penjara. Itu terlihat dengan dibuat dan dibacakannya berkas pembelaan setebal 70 halaman.

Dalam sidang di PN Surabaya itu, guru besar Universitas Surabaya (Ubaya) ini sudah mempersiapkan berkas pembelaannya.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Maxi Sigarlaki, beberapa kali dia mengusap air mata yang menetes, sambil membaca berkasnya.

Dalam berkasnya itu, terdakwa menilai bahwa dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penuh rekayasa, karena yang dimunculkan hanya masalah cover notes nomor 35, sehingga dia didakwa memberi keterangan palsu.

“Perkara ini sebenarnya karena masalah gugatan perdata dari pelapor, bukan karena cover notes,” jelasnya, Kamis (26/7).

Dia juga memaparkan bagaimana proses gugat menggugat yang dilakukan pelapor terkait perbedaan nama perusahaan, antara PT Raja Subur Abadi dan PT Subur Abadi Raja, sejak 1974.

Namun dia tak habis pikir dengan proses gugatan yang sudah berlangsung lama, dengan pelaporan dirinya sehingga harus disidang.

“Untuk itu, saya minta BAP pelapor dan saksi harus dikesampingkan,” katanya.

Sedangkan dari kuasa hukumnya, Rizal Haliman, juga menyampaikan berkas pembelaan setebal 35 halaman.

Dalam berkasnya itu, dia menyampaikan analisis yuridis, di antaranya dakwaan itu salah sasaran dan human error sehingga unsur pidana tak terpenuhi. Dia juga menilai bahwa Prof Lanny tak benar kalau membuat surat palsu.

“Dengan begitu, maka surat dakwaan kabur dan seharusnya terdakwa bebas dari tuntutan hukum,” ujarnya.

Setelah berkas pembelaan dibacakan, hakim Maxi meminta replik dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakosa. Secara lisan, JPU tetap berpegang pada tuntutan, dimana terdakwa harus dijerat pidana tiga bulan penjara.

“Saya tetap pada tuntutan,” katanya.

Dalam kasus ini, Prof Lanny didakwa melanggar pasal 263 KUHP yakni keterangan palsu pada akta otentik berupa cover notes.

Penulis: Sudharma Adi
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved