Berita Kampus Surabaya

3 Mahasiswa ITS Temukan Obat Kanker, Senyawa Kuersetin pada Bawang Merah Berkhasiat Cegah Kanker

Menurut salah satu anggota tim, Alfin, bawang merah dipilih sebagai bahan utama karena mengandung senyawa kuersetin.

3 Mahasiswa ITS Temukan Obat Kanker, Senyawa Kuersetin pada Bawang Merah Berkhasiat Cegah Kanker
surya/sulvi sofiana
Mahasiswa ITS saat melakukan penelitian terhadap bawang merah di laboratorium kampus, Rabu (25/7/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA -  Kanker payudara merupakan salah satu penyumbang kematian terbesar bagi wanita.

Hal ini turut didukung penelitian World Health Organization (WHO), yang mencatat jumlah pasien kanker payudara mencapai 13 juta jiwa mulai 2000 hingga 2015. Sehingga penyakit mematikan ini cukup menyita perhatian  para peneliti dunia.

Dari mempelajari informasi dan literatur ini, tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan terobosan baru untuk membantu mencegah kanker, terutama kanker payudara.

Ketiga mahasiswa yang terdiri dari Alvin Romadhoni Putra (21), Iftyna Dewi Umaroh (21) dan M Izzudin Jifaturrohman (21) berhasil menemukan khasiat dari bawang merah untuk membantu mencegah penyebaran penyakit kanker tersebut.

Menurut salah satu anggota tim, Alfin, bawang merah dipilih sebagai bahan utama karena mengandung senyawa kuersetin. Sebenarnya senyawa tersebut dimiliki pula oleh buah apel, brokoli, dan bayam.

“Akan tetapi kandungannya tidak sebanyak yang ada di dalam bawang merah,” ujarnya, Rabu (25/7/2018).

Senyawa kuersetin, kata Alvin, diyakini mampu menginduksi apoptosis dan menghambat sel kanker payudara. Di samping itu juga memiliki efek meningkatkan efikasi cisplatin yang merupakan salah satu obat kanker seperti kanker ovarium, kanker kolon, dan kanker paru-paru.

“Sehingga bawang merah ini dapat dijadikan sebagai agen antikanker,” jelas mahasiswa Departemen Kimia tersebut.

Selain berperan sebagai senyawa yang mampu mendeaktifkan banyak karsinogen potensial dan pemicu tumor, ternyata kuersetin memiliki sifat kelarutan, biovailibilitas, sifat hidrofobik, dan permeabilitas yang buruk.

Oleh karena itu, tim di bawah bimbingan Endang Purwanti Setyaningsih ini menginisiasi untuk membuat kuersetin lebih larut dalam tubuh.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved