Berita Surabaya

Rektor UMM Jadi Doktor yang Lulus Tercepat di Unesa

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Fauzan, sukses menjadi doktor yang lulus tercepat di Universitas Negeri Surabaya

ist
Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Fauzan (kiri) dalam ujian terbuka Doktoral Program Studi S-3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dengan Rektor Unesa, Prof Warsono sebagai salah satu dewan penguji, Selasa (24/7/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Setelah sekitar dua jam mempertahankan disertasi di depan para dewan Penguji, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Fauzan, akhirnya dinyatakan lulus dengan predikat Cumlaude dalam ujian terbuka Doktoral Program Studi S-3 Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Selasa (24/7/2018).

Fauzan berhasil memaparkan disertasi yang berjudul “Tuturan Oposisi Dalam Negosiasi Rembuk Desa (Kajian Etnopragmatik)”. Penelitian itu digelar di Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Fauzan mengungkapkan, penelitian yang dilaksanakannya bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik sosiokultural penggunaan tuturan oposisi atau perlawanan orang Jawa dalam rembuk desa.

“Dalam kajian teoritis, terdapat delapan bentuk tuturan oposisi dalam rembuk desa yakni menolak, menuntut, mengeluh, mengkritik, mengejek, membentak, menuduh, dan menyindir,” jelasnya di Pasca sarjana Unesa, Selasa (24/7/2018).

Hasil penelitiannya, bentuk tuturan oposisi yang digunakan masyarakat bersosiokultural Jawa dalam rembuk desa di Kelurahan Tlogomas Malang lebih sering bersifat asertif yakni menolak dan terus terang.

Kecenderungan keterusterangan tersebut berlawanan dengan pemahaman masyarakat Jawa yang selama ini dikenal pemalu, takut, dan rikuh.

“Saat ini telah terjadi perubahan sosiokultural masyarakat Jawa terutama dalam mengungkapkan ketidaksetujuannya kepada mitra tutur. Masyarakat Jawa yang suka pasrah dan penurut, secara sosiokultural telah mengalami perubahan ke arah sebaliknya,”tegas pria yang mengawali karir sebagai dosen Takmir pada tahun 1988 ini.

Suami Emi Sulistyaningsih ini mengungkapkan, perubahan yang terjadi pada tuturan masyarakat jawa ini dikarenakan faktor kontak budaya dan perkembangan teknologi, serta perkembangan pola pikir instan yang tidak mau bertele-tele. Situasi ini sesuai dengan kondisi yang terjadi di lingkungan penlitian yang saat ni didominasi banyak pendatang.

“Ini penelitian masih awal, saya harap tidak final dan harus ada penelitian lanjutan. Setelah ini saya juga akan tetap mengembangkan ilmu yang telah saya dalami ini,” urainya.

Lulus Tercepat

Fauzan dinyatakan sebagai lulusan tercepat di Program Doktoral Unesa karena berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun. Menurutnya hal ini tak lepas dari prioritas dan konsistensinya dalam menyelesaikan studi di tengah tanggung jawabnya mengelola UMM.

“Saya mendapat banyak pengembangan ilmu dalam mengejakan disertasi ini, pastinya sangat bermanfaat. Keluarga juga mendukung studi dan jabatan saya meskipun waktu keluarga banyak berkurang,” jelasnya.

Rektor Unesa, Prof Warsono yang bertindak sebagai dewan penguji mengungkapkan penelitian yang dilakukan Fauzan sangat menarik. Karena mampu membuktikan perubahan perilaku dalam bertutur kaat yang terjadi pada orang jawa.

“Penelitiannya telah memperkuat statement wong jowo ilang jawane (orang Jawa kehilangan kejawaannya), karena hal ini sangat mempengaruhi komunikasi dalam sosial maupun politik. Sehingga saat iini banyak terjadi tutur kata politik yang sering menghujat,” urainya.

Sejalan dengan penelitian Fauzan, mendukung perlunya revolusi mental yang saat ini dilakukan pemerintah. Karena telah terjadi pergeseran budaya karena berbagai faktor yang ada.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved