Citizen Reporter

SLB Ini Dibangun Mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang

Pada mulanya, kelas hanya dibuka setiap Minggu karena para pengajar masih berstatus mahasiswa aktif.

SLB Ini Dibangun Mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang
ist

Ruangan berukuran 5 x 4 meter di Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang menjadi pusat kegiatan anak berkebutuhan khusus (ABK) sejak dua tahun lalu. Akhirnya, mereka memiliki bangunan sendiri dan diresmikan sebagai gedung SLB Tamima Mumtaz, Minggu (8/7/2018).

Abdul Huda, Sekretaris Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang mengapresiasi peresmian SLB itu.

“Sepuluh tahun saya mendampingi KKN, baru ini yang ada realisasi nyata dan berkelanjutan,” kata Abdul Huda.

Aktivitas SLB itu sudah dimulai sejak 2016. Berawal dari konsistensi Zyana Mawaddah dan tiga temannya yang saat KKN ditempatkan di Desa Madiredo. Zyana melihat kondisi ABK di sana yang tidak mendapatkan akses pendidikan padahal pendidikan adalah hak setiap anak tanpa memandang latar belakang maupun kondisi fisik dan mental.

Niat Zyana dan teman-temannya mengembangkan potensi diri ABK yang ada di desa terpencil itu disambut baik para pamong desa. Sebagai wujud nyata mendukung inklusivitas Desa Madiredo, pihak desa memberikan sebuah ruangan berukuran 5 x 4 meter sebagai tempat pembelajaran sementara.

Di situlah para sukarelawan kemudian datang untuk melaksanakan pembelajaran selama dua tahun menggunakan sarana permainan dari hasil open donation.

Pada mulanya, kelas hanya dibuka setiap Minggu karena para pengajar masih berstatus mahasiswa aktif. Kendati demikian, proses pembelajaran telah memberikan banyak perubahan besar kepada peserta didiknya. Para pejabat desa mengaku bahagia melihat anak-anak mereka aktif seperti anak pada umumnya.

“Alhamdulillah, Alim sudah nggak sesering dulu tantrum sama stepnya,” kata salah satu orang tua yang anaknya autis.

Diawali dengan tujuh ABK, sekarang SLB Tamima Mumtaz sudah memiliki 14 murid. Saat peresmian SLB, para murid mengenakan pakaian adat. Mereka berjalan dari balai desa tempat mereka bersekolah dulu menuju gedung bekas Polides yang berjarak sekitar 2 km. Gedung baru SLB Tamima Mumtaz berdampingan dengan kebun apel selayaknya sekolah alam.

Yayasan Hardika Bakti adalah lembaga yang menaungi SLB itu sebagai sekolah formal. Selanjutnya, administrasi serta seluruh izin operasional SLB akan segera diurus demi turunnya bantuan dari pemerintah.

Zyana sebagai founderSLB sejak zaman perintisan diangkat sebagai kepala sekolah, sedang teman-temannya yang lain membantu mengajar.

SLB mulai aktif 16 Juli 2018. Pembelajaran dilakukan setiap pagi, sedangkan sore hari adalah kelas massage therapy. Harapannya, anak berkebutuhan khusus di desa-desa tetangga ikut merasakan manfaat kehadiran SLB Tamima Mumtaz.

Nor Laili
Mahasiswa Pendidikan Luar Biasa
Universitas Negeri Malang
nurlaili.whiztale@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved