Berita Surabaya

Dicari: Inovasi Cara Menarik Dalami Bahasa dan Sastra

Inovasi pembelajaran bahasa dan sastra harus bervariasi untuk mengubah budaya lisan atau tutur menuju budaya tulisan.

Dicari: Inovasi Cara Menarik Dalami Bahasa dan Sastra
surya/endah imawati
Suasana The 1st International Conference on Education, Language, and Literatur (ICon-Elite) yang diadakan Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya, Rabu (18/7/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Selalu diperlukan cara menarik untuk mengajarkan bahasa dan sastra. Inovasi pembelajaran bahasa dan sastra harus bervariasi untuk mengubah budaya lisan atau tutur menuju budaya tulisan.

Itu dapat dilihat dari banyaknya hasil penelitian yang dalam seminar internasional yang diadakan Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rabu (18/7/2018) di Gedung Gema, Jalan Ketintang. The 1st International Conference on Education, Language, and Literatur (ICon-Elite) menghimpun 150 hasil penelitian mengenai pembelajaran, bahasa, dan sastra.

Dirjen Sumber Daya IPTEK Dikti, Ali Gufron Mukti, mengatakan diperlukan perubahan dari budaya tutur ke budaya tulis dalam bidang akademik untuk memajukan pembelajaran bahasa dan sastra.

"Bukan hanya profesor, semua yang ada dalam bidang pendidikan seharusnya menjadikan budaya tulis sebagai bagian dari proses akademik Ini untuk memajukan pembelajaran bahasa dan sastra," kata Ali.

Sementara menurut ketua penyelenggara, Ahmad Munir, dibutuhkan inovasi dalam pembelajaran, kebahasaan, dan kesastraan. Itu tampak pada topik seminar, yaitu 'Learning Language and Literatur Teaches us to be More Humane'.

"Seminar ini mendorong para peserta untuk menghasilkan penelitian yang dapat menginspirasi pembelajaran bahasa dan sastra menjadi lebih bervariasi," imbuh Munir.

Pembicara dalam seminar, sastrawan Budi Darma, Andrzej Cirocki dari University of York, Christopher Allen Woodrich dari International of Indonesia Forum Canada, dan Luvdhy dari University of Exester.

Peserta seminar 150 orang dari Inggris, Canada, Malaysia, selain dari seluruh wilayah di Indonesia.

Herman Didipu dari Universitas Negeri Gorontalo yang menjadi salah satu pemateri menunjukkan ada banyak cara untuk menyampaikan pendidikan karakter.

Novel-novel etnografi seperti Namaku Teweraut atau Cinta Putih di Bumi Papua menjadi penelitiannya.

"Pendidikan karakter tidak hanya didapat dari materi di sekolah. Pendidikan karakter juga bisa dipahami melalui novel etnografi," kata Herman.

Penulis: Endah Imawati
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved