Sosok

Potret Jadi Minoritas Yasmin Amalia di Negeri Paman Sam

Yasmin memaknai bahwa hidup sebagai minoritas butuh adaptasi ekstra, dan memberi pelajaran hidup baginya.

Potret Jadi Minoritas Yasmin Amalia di Negeri Paman Sam
surya/erwin wicaksono
Yasmin Amalia 

SURYA.co.id I JEMBER - Hidup minoritas sebagai seorang muslim di negara yang mayoritas nonmuslim menjadi pengalaman tidak terlupakan bagi Yasmin Amalia. Pengalaman itu ia dapatkan ketika melakukan pertukaran pelajar The Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (TKL YES) di Amerika Serikat pada 2015-2016 silam.

TKL YES adalah program full-scholarship dari pemerintah Amerika Serikat (AS) yang ditujukan kepada siswa-siswa dari Negara bermayoritas penduduk Muslim dengan tujuan menjembatani perbedaan pandangan di kalangan penduduk Amerika dan penduduk Muslim setelah terjadinya peristiwa teror 9/11 di AS.

"Dari situ saya memaknai bagaimana menjadi seorang minoritas, dan itu tidaklah mudah," terang mahasiswi jurusan Sistem Informasi Universitas Indonesia itu.

Yasmin memaknai bahwa hidup sebagai minoritas butuh adaptasi ekstra, dan memberi pelajaran hidup baginya.

"Saya lebih simpatik ke orang lain," sambungnya.

Meski memakai hijab, Yasmin tidak merasakan diskriminasi secara berlebihan ketika bergaul dengan rekan di sekolahnya kala itu. 

"Mungkin karena dulu tinggal di kota besar, di Washington, jadi lebih beragam gitu orang-orangnya. Meski pakai hijab, cuma diliatin saja, tak sampai di bully. Ada teman saya yang di negara bagian lain sampai di bully gitu sama temen-temennya," kenangnya.

Ke depan, dara berusia 20 tahun itu masih memendam rasa untuk dapat kembali mendapat kesempatan untuk pertukaran pelajar seperti yang dilakukannya beberapa tahun lalu.

"Kalau ada kesempatan ya tidak apa-apa sih, saya berminat sekali," pungkasnya.

Penulis: Erwin Wicaksono
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved