Berita Surabaya

Hari Minggu Lusa Ada Festival Tari Remo dan Tari Yasakoi di Halaman Taman Surya. Gratis

Festival tahunan ini akan berlangsung sejak pagi hari pukul 07.00 WIB hingga sore hari.

Hari Minggu Lusa Ada Festival Tari Remo dan Tari Yasakoi di Halaman Taman Surya. Gratis
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Ratusan pelajar TK dan SD di Surabaya menari remo bareng dalam peringatan Hari Jadi Kota Surabaya ke-725, Kamis (31/5/2018) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pemkot Surabaya kembali menggelar Festival Tari Remo (FTR) di Halaman Taman Surya. Tak hanya Tari Remo, di FTR ini akan ada juga penampilan Tari Yosakoi dari Jepang.

Festival tahunan Tari Remo ini akan berlangsung sejak pagi hari pukul 07.00 WIB hingga sore hari. Akan 500 penari dari berbagai sanggar tari di Surabaya bakal memberikan penampilan tarian Remo menawan ke warga di FTR.

Kepala Sie Seni dan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya, Heri Purwadi, mengatakan selain untuk menghibur, melalui FTR ini masyarakat Surabaya bisa melihat seberapa jauh perkembangan Tari Remo di Surabaya.

“Tahun ini sedikit berbeda. Total peserta tahun kemarin hanya 43 grup tapi tahun ini mencapai 53 grup (1 grup terdiri dari 10 orang). Jadi kurang lebih total ada sekitar 500 peserta tari,” kata Heri, Jumat (6/7/2018).

Heri menjelaskan untuk penampilan Tari Yosakoi Jepang pada festival ini adalah tindaklanjut dari kerjasama Surabaya melalui program sister city dengan Negara Sakura tersebut.

Festival juga akan dihadiri Konjen Jepang sebagai perwakilan Wali Kota Kochi yang tidak bisa hadir.

Masyarakat Surabaya yang ingin menyaksikan festival ini tak perlu khawatir kepanasan. Pemkot sudah menambah jumlah tenda agar penonton, khususnya abak-anak tidak kepanasan.

“Wali Kota yang meminta diberi tenda agar anak-anak tidak kepanasan,” tambahnya.

Disampaikan Heri, penting menggelar FTR karena pemkot ingin melestarikan budaya asli Surabaya itu.

Bahkan, kata Heri, Pemkot menyediakan jasa pelatih Tari Remo bagi sanggar Surabaya di tiap kecamatan yang membutuhkan untuk terus melestarikan budaya Surabaya sekaligus mengasah bakat dan minat anak-anak yang memang ingin belajar Tari Remo.

“Tidak dipungut biaya alias gratis. Hasilnya pun ada peningkatan, yakni anak-anak dari beberapa sanggar banyak mengikuti lomba-lomba,” ungkapnya.

Melalui festival ini Pemkot Surabaya berharap warga mengetahui berbagai macam tarian mancanegara.

Sebab, kata Hari, pengembangan budaya ini ke depan akan menjadi ajang transfer ilmu bagi pelaku seni serta peserta yang ikut terlibat.

"Begitu sebaliknya. Negara asing mengetahui budaya tarian Surabaya, khususnya Tari Rem," pungkasnya.

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved