Berita Surabaya

Festival Seni Budaya Buddhis di Surabaya: Ada Replik Candi Borobudur hingga Abu Jasad Buddha Gautama

Ketua pelaksana FSBB IV, Hutomo Wang menuturkan, event ini menjadi cara menyampaikan ajaran dan pengetahuan Buddha pada khayalak secara persuasif.

Festival Seni Budaya Buddhis di Surabaya: Ada Replik Candi Borobudur hingga Abu Jasad Buddha Gautama
surya/sudharma adi
Seorang pengunjung mengamati replik candi Borobudur di sela persiapan pameran di Pakuwon Mall. 

SURYA | SURABAYA - Pemahaman tentang ajaran dan pengetahuan Buddha yang masih kurang, membuat Buddhist Education Centre Surabaya mengadakan Festival Seni Budaya Buddhis IV (FSBB IV). Festival yang digelar hingga Minggu (8/7/2018) nanti, akan menampilkan replika Candi Borobudur, hingga relik (abu sisa jasad) Sang Buddha Gautama.

Ketua pelaksana FSBB IV, Hutomo Wang menuturkan, event ini menjadi cara menyampaikan ajaran dan pengetahuan Buddha pada khayalak secara persuasif. Ini juga edukasi dan memberi informasi tentang kekayaan budaya bangsa Indonesia, terutama sejarah peradaban agama Buddha di Indonesia.

“Peradaban agama Buddha di Indonesia telah memberi warna pada kehidupan bangsa hingga saat ini. Contoh yang nyata adalah Candi Borobudur yang telah diakui dunia,” paparnya di sela-sela persiapan FSBB IV di Pakuwon Mall, Jumat (29/6/2018).

Event seperti ini memang sudah digelar empat kali di Surabaya dan dihelat tiap lima tahun sekali sejak 2003 lalu. Pada kurun waktu 2010-2011 kemarin, FSBB ini menggelar tur ke beberapa kota, seperti Makasar, Manado dan Jakarta. Benda replika juga dibawa ke kota-kota itu saat tur. “Dengan tema Jalan Menuju Kebahagiaan, FSBB IV ini memang digelar terkait ulang tahun Buddhist Education Centre Surabaya ke-15,” ujarnya.

Pada FSBB IV ini, banyak hal yang ditampilkan, mulai dari replika Candi Borobudur, pameran kitab suci agama Buddha Tripitaka dalam berbagai bahasa, pameran relik Sang Buddha serta beberapa muridnya, workshop kaligrafi
Buddhis pada zaman dahulu, replika kapal Samudraraksa yang ada pada relief Candi
Borobudur. “Untuk pameran relik, ada sekira 20 macam relik Sang Buddha dan murid-muridnya. Relik ini dipinjam langsung dari Myanmar,” katanya.

Berbagai tampilan replika itu makin menawan dengan tampilan visual dan audio ajaran Budsha yang dikemas dengan teknologi modern, agar lebih mudah dipahami oleh siapa saja dengan berbagai latar belakang (usia, keyakinan, bangsa dan sebagainya).

Seorang pengunjung, Desi Arifa (40) mengakuj bahwa festival ini membuatnya makin tahu budaya dan agama Buddha. Dengan bertambahnya pengetahuan ini, maka rasa toleransi yang dimilikinya semakin kuat.

“Apalagi, festival ini juga didukung teknologi, sehingga apa yang dipamerkan cukup menarik. Ini membuat saya semakin sadar arti toleransi itu,” pungkasnya.

Penulis: Sudharma Adi
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved