Berita Banyuwangi
Tradisi Puter Kayun Warnai Atraksi Syawal di Banyuwangi
Setelah ritual adat Barong Ider Bumi dan Seblang Olehsari, kini digelar ritual Puter Kayun, Minggu (24/6/2018).
Penulis: Haorrahman | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id | Banyuwangi - Selama Syawal ini, berbagai tradisi lokal mewarnai Banyuwangi. Setelah ritual adat Barong Ider Bumi dan Seblang Olehsari, kini digelar ritual Puter Kayun, Minggu (24/6/2018).
Puter Kayun merupakan tradisi yang dilakukan warga Boyolangu, saat memasuki hari ke sepuluh, Syawal.
Tradisi ini merupakan ritual menepati janji warga Boyolangu kepada para leluhur yang telah berjasa membuka jalan di kawasan utara Banyuwangi.
Mereka melakukan napak tilas dengan menaiki delman hias dari Boyolangu menuju Watu Dodol.
Tradisi naik delman hias ini, digelar dari depan kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri.
Warga dari berbagai perkampungan di Boyolangu telah berkumpul di depan kelurahan sambil menaiki delman-delman hias layaknya andong wisata.
Sambil berdandan khas Using, yakni mengenakan pakaian adat serba hitam dan udeng. Tak lupa memakai kaca mata hitam, mereka duduk di dalam delman dan siap melakukan ritual puter kayun menuju Watudodol.
Sekitar 20 delman hias yang akan melakukan tradisi ini. Di dalam delman penuh berbagai perbekalan untuk dibuka saat tiba di watu dodol.
“Banyuwangi konsisten mengangkat tradisi lokal masyarakat setempat, termasuk tradisi Puter Kayun Boyolangu ini. Selain untuk menjaga tradisi dan ritual yang ada, ini juga sebagai cara untuk menumbuhkan banyak obyek atraksi wisata di Banyuwangi,” kata Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), Sudjani.
Sudjani menambahkan, begitu menariknya tradisi ini juga akan jadi tema Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2018 tahun ini.
Selanjutnya, Sudjani bersama pejabat komponen daerah lainnya memecah kendi sebagai tanda dimulainya tradisi Puter Kayun. Disusul warga yang beramai-ramai menaiki dokar.
Ketua Panitia Muhammad Ikrom menambahkan, tradisi ini terus digelar sebagai napak tilas jejak Ki Buyut Jakso, leluhur warga Boyolangu yang dipercaya sebagai orang yang pertama kali membangun jalan di kawasan utara Banyuwangi.
"Konon, saat membuka jalan di sebelah utara, Belanda meminta bantuan pada Ki Buyut Jakso karena bagian utara ada gundukan gunung yang tidak bisa dibongkar.
Ki Jakso lalu bersemedi dan tinggal di Gunung Silangu yang sekarang jadi Boyolangu.
Atas kesaktiannya, akhirnya dia bisa membuka jalan tersebut sehingga wilayah itu diberi nama Watu Dodol, yang artinya watu didodol (dibongkar)," ujar Ikrom.
Sejak itu, lanjut Ikrom, Ki Buyut Jakso berpesan agar anak cucu keturunannya harus berkunjung ke Pantai Watu Dodol untuk melakukan napak tilas apa yang telah dilakukannya.
"Karena saat itu hampir semua masyarakat Boyolangu berprofesi sebagai kusir dokar, maka mereka mengendarai dokar untuk napak tilasnya,” ujarnya.
Setelah sampai Watu Dodol, mereka menggelar selamatan. Sebagian tokoh adat juga menaburkan bunga berbagai rupa ke laut untuk menghormati para pendahulu mereka yang meninggal saat pembuatan jalan.
Sebelum pelaksanaan puter kayun, tradisi ini diawali sejumlah ritual. Dimulai dari nyekar ke makam Buyut Jakso dan tradisi kupat sewu (seribu ketupat) yang digelar tiga hari sebelum puter kayun dan pertunjukan barong pada malam puter kayun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-tradisi-puter-kayun_20180624_193925.jpg)