Berita Surabaya

90 Persen Penderita Kanker Payudara Awalnya Tak Merasa Nyeri, Gejala Lainnya seperti ini

Kanker payudara hingga saat ini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi perempuan di seluruh dunia.

90 Persen Penderita Kanker Payudara Awalnya Tak Merasa Nyeri, Gejala Lainnya seperti ini
surya/habibur rohman
ANTISIPASI KANKER - Berbagai kegiatan dilakukan mahasiswa program studi ilmu komunikasi pada kampanye kesadaran terhadap kanker payudara di UK Petra Surabaya, Selasa (6/6/2018). Kegiatan bertema "Pink"ini juga menghadirkan Citra Kwanda dan Ami Ashariati sebagai narasumber talkshow, pemeriksaan deteksi kanker, mading maupun beberapa permainan kesadaran terhadap kanker payudara. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kanker payudara hingga saat ini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi perempuan di seluruh dunia. Sayangnya tidak semua kanker payudara bisa dideteksi dari rasa nyeri.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Konsultan Hematologi Onkologi Medik Siloam Hospitals Surabaya, Prof dr Ami Ashariati, SpPD-KHOM, FINASIM mengungkapkan 90 persen penderita kanker payudara tidak mengalami nyeri pada bagian payudaranya.

Tanda lainnya berupa keluarnya cairan dari puting susu, nyeri, payudara tidak simetris, nipple discharge, dan kulit yang berubah seperti kulit jeruk. Jika hal-hal tersebut terjadi, dia menyarankan jangan tunda berkonsultasi dengan tenaga medis.

"Benjolan pada payudara kadang bisa dikenali oleh penderita sendiri karena tidak lazim,"urainya ketika ditemui usai talkshow di UK Petra, Rabu (6/6/2018).

Menurutnya, satu dari delapan wanita di dunia punya potensi besar mengidap kanker payudara. Bahkan, hingga saat ini jumlah penderita masih terus meningkat. Khususnya pada perempuan berusia di atas 40 tahun, yakni berkisar 2 persen setiap tahunnya.

"Penyebab dari meningkatnya penderita kanker payudara pada perempuan berusia di atas 40 belum bisa dipastikan. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang bisa dijadikan peringatan bagi perempuan. Mulai menstruasi dini, terlambat menopause, penggunaan pil KB berlarut-larut, aktivitas fisik yang kurang, dan obesitas pada postmenopause,"lanjutnya.

Tingkat stres yang tinggi menurutnya juga bisa mempengaruhi anak muda mengidap kanker payudara.

Survival kanker, Citra Kwanda mengungkapkan pertama kalibia mengetahui ada benjolan pada payudaranya saat mandi. Ia merasa ada benjolan di dalam, tetapi karena tidak sakit iapun mengabaikannya.

"Kemudian setelah beberapa saat saya pegang benjolan membesar. Saya kira cuma ada benjolan sebelah kanan tapi saat di USG ternyata di dua payudara ada benjolan. Sebelah kiri tidak terasa karena lokasinya di dalam," ujarnya.

Ia pun cukup bingung karena bisa mengidap kanker. Sehingga ia butuh dukungan dari kerabat dan keluarga untuk bisa menjalani pengobatan.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved