Kamis, 23 April 2026

Berita Surabaya

Sambut Pasar Bebas, APFI Dorong Profesi Fotografer Bersertifikasi

Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI) mendorong agar para pelaku industri fotografi di Indonesia memiliki sertifikasi.

surabaya.tribunnews.com/eben haezer
Rizal Imanullah, ketua Harian APFI Pusat saat bicara dalam ajang Photo Exhibition yang digelar Departemen Komunikasi, Fisip Universitas Airlangga, di Ciputra World Surabaya, Minggu (27/5/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Perkembangan industri kreatif perkembangan teknologi membuat industri fotografi semakin diminati. Karena itu, Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI) mendorong agar para pelaku industri fotografi di Indonesia memiliki sertifikasi.

Rizal Imanullah, ketua Harian APFI Pusat mengatakan, saat ini baru sekitar 500 fotografer yang telah memiliki sertifikat kompetensi, baik yang diterbitkan oleh Leskofi (Lembaga Sertifikasi dan Kompetensi Fotografi Indonesia) maupun oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Indonesia.

"Tantangannya memang masih banyak yang belum teredukasi mengenai pentingnya sertifikasi ini. Harus diakui, banyak para pelaku industri fotografi yang sudah mapan yang mempertanyakan alasan mengapa harus ada sertifikasi," ujar Rizal saat hadir di Photo Exhibition yang digelar Departemen Komunikasi Universitas Airlangga di Ciputra World Surabaya, Minggu (27/5/2018).

Dia mengatakan, sertifikasi penting untuk para pelaku industri fotografi agar siap bersaing dengan para pelaku industri yang sama dari berbagai negara. Apalagi, mau tidak mau era pasar bebas juga akan berimbas ke sektor industri kreatif.

Untuk mendorong semakin banyak pelaku industri fotografi yang tersertifikasi, Rizal mengklaim bahwa APFI gencar melakukan edukasi dan sosialisasi. Hal itu tak hanya menyasar para fotografer, tetapi juga market yang memanfaatkan jasa mereka.

"Sejauh ini sejumlah BUMN yang hendak memakai jasa fotografer juga sudah mulai mensyaratkan adanya sertifikat kompetensi tersebut," sambungnya.

Beri Perlindungan

Rizal menambahkan, APFI tidak bekerja semata untuk mendorong para pelaku industri fotografi agar memiliki sertifikat kompetensi. Sejak lahir 2014 silam, APFI juga bekerja untuk memberi perlindungan kepada para pelaku di industri ini. Di antaranya, menyangkut perlindungan dan pendampingan dalam persoalan hukum. 

"Di APFI, kami juga konsen dengan persoalan-persoalan UMR, kode etik, dan perlindungan hukum lainnya seperti kasus-kasus pencurian karya fotografi. Jadi bukan cuma soal sertifikasi saja," katanya. 

Pameran Fotografi

Sementara itu, Ketua Departemen Komunikasi, Yayan Sakti Suryandaru mengungkapkan, dalam photo exhibition yang digelar kali ini, puluhan foto terbaik karya mahasiswa jurusan Komunikasi Fisip Unair dipamerkan untuk umum. 

"Sengaja kami gelar di pusat-pusat aktivitas warga seperti di tempat ini supaya semakin banyak yang melihat dan mengapresiasi," kata Yayan. 

Dia menambahkan, digelarnya sharing session yang salah satunya menghadirkan APFI, juga bertujuan untuk memberikan tambahan pengetahuan kepada mahasiswa yang langsung dari pakarnya. 

"Sharing session seperti ini juga penting untuk mereka (mahasiswa) karena nantinya sebagian dari mereka juga pasti akan ada yang terjun ke industri fotografi. Sejauh ini memang sudah cukup banyak alumni kami yang berkiprah di bidang itu," pungkasnya. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved