Berita Surabaya

Pengguna Jalan Tanda Tangan lalu Terima Bingkisan, Cara IKA SMAN 4 Surabaya Deklarasi Antiterorisme

Ikatan Alumni (IKA) SMAN 4 Surabaya melakukan deklarasi antiterorisme dan radikalisasi.

Penulis: Fatkhul Alami | Editor: Parmin
surya/fatkhul alami
Para IKA SMAN 4 Surabaya membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk penolakan terorisme dan radikalisme, Minggu (27/5/2018).   

SURYA.co.id | SURABAYA – Ikatan Alumni (IKA) SMAN 4 Surabaya  melakukan deklarasi anti terorisme dan radikalisasi. Deklrasi dikemas dalam penggalangan tanda tangan dan bagi-bagi takjil di depan SMAN 4 Surabaya, Minggu (27/5/2018).

Dua spanduk warna putih, masing-masing berukuran 10 meter langsung dibeber para alumni SMAN 4 Surabaya. Para alumni secara bergantian membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk penolakan terorisme dan radikalisme.

Warga dan pengguna jalan yang melintas pun, juga ikut membubuhkan tanda tangan dengan spidol. Setelah tanda tangan, mereka menerima bingkisan takjil dari IKA SMAN 4 Surabaya.

“Selagi ramadan, kami para alumni (IKA SMAN 4 Surabaya) melakukan kegiatan sosial. Sudah dua kali ini dilakukan, tapi kali ini kami melakukan deklrasi anti terorisme dan radikalisme,” sebut Lukitasari, Ketua IKA SMAN 4 Surabaya, Minggu (27/6/2018).

Deklarasi dan penggalangan tanda tangan dilakukan, sebagai rekasi adanya peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya dua minggu lalu.  

 “Kami menolak terorisme dan radikalisme. Surabaya itu damai, jangan bikin rusuh,” tegas Lukitasari.

 Sambil dektalarsi, IKA SMAN 4 Surabaya bagi-bagi bingkisan takjil sebanyak 1.200 bungkus. Bungkisan takjil sebanyak itu ludes dalam waktu sebleum pukul 17.00 WIB.

 Sumardi, salah satu warga mengaku senang bisa menerima takjil dari IKA SMAN 4 Surabaya. Dirinya juga ikut membubuhkan tanda tangan menolak terorisme dan radikalisme di Surabaya.

 “Tadi ikut tanda tangan, setelah itu menerima bingkisan takjil. Ini mau pulang, Alhamdulillah di jalan dapat takjil,” aku Sumardi.

 Warga Tamdaksari ini menuturkan, terorisme dan radikalisme harus dilawan. Paham tersebut tidak cocok berkembang di Surabaya atau Indonesia.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved