Rabu, 8 April 2026

Berita Blitar

Dinkes Kota Blitar Temukan Sayuran Mengandung Formalin di Pasar Takjil. Begini Cirinya

Dinkes Kota Blitar menemukan sayuran-sayuran yang mengandung formalin saat meninjau pasar takjil. Ini ciri-cirinya...

Penulis: Samsul Hadi | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/samsul hadi
Petugas Dinkes Kota Blitar mengecek beberapa jajanan yang dijual di Pasar Takjil, Jl A Yani, Senin (21/5/2018). 

SURYA.co.id | BLITAR - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar mengecek jajanan dan minuman yang dijual di Pasar Takjil, Jl A Yani, Senin (21/5/2018). Petugas menemukan beberapa jajanan dan minuman mengandung zat berbahaya seperti boraks, formalin, dan rhodamin.

Petugas menyisir sejumlah lapak milik pedagang takjil di lokasi. Petugas mengambil 20 sampel jajanan dan minuman yang dijual di lokasi. Sampel jajanan dan minuman itu langsung dicek di lokasi. Petugas membawa mobil uji laboratorium di lokasi.

Hasil pengecekan, petugas menemukan beberapa makanan mengandung zat berbahaya. Misalnya, hasil pengecekan jajanan jenis krupuk banyak ditemukan mengandung boraks. Petugas juga menemukan cendol dan cincau yang mengandung rhodamin.

Paling baru, petugas menemukan sayuran yang megandung formalin. "Ini temuan baru dalam razia kami tiap tahun, ada sayuran yang mengandung formalin," kata Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Blitar, dr Dharma Setiawan, usai pengecekan jajanan takjil di Jl A Yani.

Dharma menjelaskan selain sebagai pengawet ternyata formalin juga dapat mempertajam warna sayuran.

Sayuran yang diberi formalin warnanya lebih hijau. Tetapi, temuan paling banyak, yakni, krupuk yang mengandung boraks atau uyah bleng.

"Krupuk yang diberi boraks memang lebih renyah dan gurih. Tapi bahan itu berbahaya bagi kesehatan," ujar Dharma.

Menurutnya, Dinkes akan melanjutkan razia lagi di Pasar Takjil pada Selasa (22/5/2018). Setelah razia yang kedua, Dinkes akan mengumpulkan para pedagang di Pasar Takjil. Dinkes akan memberi sosialisasi soal zat-zat berbahaya yang dicampur di jajanan.

"Kami juga akan berkoordinasi dengan Disperindag untuk sosialisasi ke pedagang. Selama ini masyarakat kurang peduli dengan zat berbahaya yang ada di jajanan. Karena efeknya tidak langsung, tapi jangka panjang," kata Dharma.

Tono, salah satu pedagang mengatakan tiap Ramadan ikut berjualan di Pasar Takjil, Jl A Yani. Warga Ponggok, Kabupaten Blitar, ini berjualan sosis dan pentol. Dia kulakan sosis kemasan dari agen. Sosis itu dijual lagi dalam sajian dibakar.

Dia senang ada pengecekan jajanan yang dijual di Pasar Takjil. Dengan ada pengecekan, masyarakat biar tahu kalau ada jajanan yang mengandung zat berbahaya. Hal itu membuat pedagang dan pembeli lebih hati-hati memilih jajanan yang dijual di Pasar Takjil.

"Kami justru senang ada pengecekan jajanan dari Dinkes. Masyarakat biar aman membeli jajanan di sini," katanya. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved