Bisnis

Efek Teror Bom, Penjualan di Kafe dan Resto di Surabaya Turun Drastis

Sejumlah serangan bom bunuh diri di Surabaya berdampak terhadap kinerja bisnis kafe dan restoran. Penjualan mereka pun turun drastis.

Efek Teror Bom, Penjualan di Kafe dan Resto di Surabaya Turun Drastis
surabaya.tribunnews.com/pipit maulidiya
Suasana food court Tunjungan Plaza 5, Kamis (17/5/2018) 

SURYA.co.id | SURABAYA – Efek teror bom di Surabaya rupanya tak hanya dirasakan oleh mal, tetapi juga kafe dan restoran.

Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (APKRINDO) wilayah Jawa Timur, Tjahyono Haryono, menyebut kejadian pengeboman sebagai tragedi yang sulit diterima akal sehat.

“Kami atas nama APKRINDO juga turut berbelasungkawa atas apa yang terjadi di hari Minggu (13/5/2018) dan Senin (14/5/2018). Ini suatu tragedi yang secara akal sehat susah kami terima. Kami berdoa semoga keluarga korban bisa mendapat ketabahan, dan semua masalah segera clear,” tuturnya dalam press conference di Four Points Hotel, Surabaya, Jumat (18/5/2018).

Menurut Tjahyono, tak hanya mal yang mengalami penurunan pengunjung serta penjualan yang drastis, tetapi juga kafe dan resto karena anggota APKRINDO mengisi 40-60 persen tempat-tempat di mal Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI).

“Selama dua hari itu, Senin dan Minggu, penjualan atau pengunjung kami hanya 10-20 persen dari biasanya,” jelasnya.

Penurunan penjualan tersebut terjadi di hampir seluruh kafe dan resto Surabaya.

Padahal, Tjahyono menambahkan, bulan Mei biasanya paling ramai karena ada Surabaya Fashion Festival, memasuki bulan Ramadan sehingga banyak yang mengadakan buka bersama, dan juga ada sekolah-sekolah yang sudah libur sehingga banyak siswa mengunjungi mal.

Tetapi meski sepi pengunjung, banyak ojek online yang mengambil pesanan dari kafe dan resto.

Walau begitu, kunjungan ojek online tidak begitu berpengaruh pada kenaikan penjualan karena jumlah makanan yang bisa dibawa terbatas.

“Untuk nominal kerugian, untuk satu grup saja dari APKRINDO, kehilangan sales itu bisa mencapai 2 miliar rupiah. Kalau kita bicara per brand, itu mereka cukup menderita, karena Minggu, Senin dan Selasa itu biasanya penjualan cukup bagus. Minggu sama keluarga, Senin dan Selasa orang-orang yang bekerja,” ungkapnya.

Tjahyono bercerita, ia dan Sutandi Purnomosidi, ketua APPBI, menghabiskan lima hari termasuk saat press conference ini berkeliling mal Tunjungan Plaza untuk melihat sendiri bagaimana kondisi mal.

Mereka juga membagikan foto-foto di media sosial untuk menunjukkan bahwa mal masih aman.

“Saya lihat kafe dan resto sekarang sudah mulai banyak pengunjung dibandingkan dua hari awal itu. Mudah-mudahan bisa segera kembali normal. Kami bisa lihat karakter orang Surabaya itu tidak mudah takut,” ujarnya sambil tersenyum.

Sementara itu, kafe dan resto APKRINDO tetap menjalankan event maupun promo spesial bulan Ramadan.

Tiap kafe dan resto membuat paket spesial hingga pengadaan voucher demi menggaet pelanggan. 

Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved