Beranda Grahadi

Pakde Karwo Minta Perajin Batik Tak Tinggalkan Kultur

“Batik yang baik itu yang punya pesan filosofis dalam setiap motifnya, ini ciri khas luar biasa dan pasti laku di pasaran."

foto: humas pemprov jatim
Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo membuka Pameran Batik, Bordir, dan Aksesoris Fair Ke-13 Tahun 2018 di Grand City Surabaya, Rabu (9/5/2018) sore. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Di tengah persaingan produk kerajinan yang semakin ketat, salah satu upaya yang harus dilakukan perajin adalah meningkatkan kualitas produk. Upaya peningkatan ini salah satunya dengan mempertahankan ciri khas dan motif kerajinan yang sesuai dengan kultur atau budaya masing-masing daerah.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo yang akrab disapa Pakde Karwo saat membuka Pameran Batik, Bordir dan Aksesoris Fair ke-13 Tahun 2018 di Grand City Surabaya, Rabu (9/5) sore.

Pakde Karwo mengatakan, dalam motif selembar kain batik terkandung filosofi yang kuat. Sehingga tak sekedar gambar, lebih dari itu ada makna kuat yang ingin disampaikan dalam motif tersebut. Apalagi, setiap daerah di Jatim punya motif batik yang beragam dan menggambarkan ciri khas wilayah masing-masing sebagai pakem yang harus dipegang.

“Batik yang baik itu yang punya pesan filosofis dalam setiap motifnya, ini ciri khas luar biasa dan pasti laku di pasaran. Tidak hanya batik, bordir maupun aksesoris juga harus punya basis kultur,” katanya.

Menurutnya, produk batik, bordir dan aksesoris dari Jatim sangat diminati tak hanya pasar dalam negeri tapi juga mancanegara. Ia menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke beberapa negara, tak jarang ia menjumpai produk Jatim yang kemudian dilabeli negara lain.

Melihat kondisi ini, ia terus mendorong para perajin dan pengusaha UKM untuk terus meningkatkan daya saing. Dimana kuncinya adalah produknya harus berkualitas, harganya murah dan distribusinya lebih cepat.

Pakde Karwo juga berharap para perajin dan pelaku industri UKM ini untuk konsisten dan memegang kunci berbisnis yakni kejujuran. “Saya masih melihat permasalahan di industri kerajinan ini adalah kontinuitas pengiriman barang yang belum terpenuhi, ini harus terus diperbaiki,” katanya.

Orang nomor satu di Jatim ini terus optimis sektor perdagangan di Jatim terus meningkat dimana pada tahun 2017, neraca perdagangan antar daerah surplus 164,49 triliun rupiah, meningkat 63,57 persen dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 100,56 triliun rupiah.

Peningkatan perdagangan antar daerah ini menunjukkan pangsa pasar dalam negeri masih menjadi peluang menjanjikan. Untuk itu, ia berharap pelaksanaan pameran batik, bordir dan aksesoris ini mampu menjadi ajang pemasaran yang baik sebagai bagian dari upaya meningkatkan perekonomian Jatim.

“Saya sangat mengapresiasi acara ini, apalagi ini mengangkat soal tenun khas Jatim,” katanya.

Halaman
12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved