Berita Ekonomi Bisnis
Mengenal Lapangan Migas Bukit Tua Wilayah Kerja Ketapang Madura
Ggas produksi dari Lapangan Bukit Tua akan dialirkan ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mendukung penyediaan listrik di Jatim.
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Kinerja Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) PT Petronas di tahun 2018 ini masih terus berupa untuk meningkatkan produksi minyak bumi menjadi 20.000 barel per hari (bph).
Sedang sejak Mei 2015, produksi hulu minyak dan gas (migas) perusahan asal Malaysia ini, masih sekitar 17.000 bph.
"Harapan kami tahun 2018 ini bisa naik 20.000 bph. Meski capaian yang sudah didapat saat ini cukup bagus," ungkap Andiono Setiawan, Senior Manager Corporate Affairs & Administration PC Muriah, Senin (8/5/2018) di Gresik.
Selain minyak bumi, Petronas juga mendapatkan hasil sampingan berupa gas bumi, yang produksinya saat ini mencapai 37 mmsdf atau 46 MMBTU. Produksi itu didapat dari kilang minyak lepas pantai Utara Pulau Madura, yang disebut lapangan migas Bukit Tua Wilayah Kerja (WK) Ketapang.
WK Ketapang resmi ditandatangani sebagai kontrak PSC (Production Sharing Contract) dengan Pemerintah Republik Indonesia melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), pada 11 Juni 1998.
Sejak menguasai WK Ketapang, setelah mengambilalih saham Conoco Phillips, pada 1 Desember 2000 hingga 25 Juli 2008, kegiatan operasi Petronas terus meningkat.
"Kami ada lima struktur atau sumur (well) telah dibor di WK ini yaitu Bukit Tua Selatan, Jenggolo, Bukit Panjang, Payang, dan Teram," jelas Andiono.
Untuk mengalirkan produksi gas, Petronas membangun pipa dasar laut sepanjang 110 km dari fasilitas penerimaan darat atau Onshore Receiving Facilities (ORF), dengan kapasitas 70 million standard cubic feet per day (mmsfd), yang terletak di Kawasan Industri Maspion (KIM), Kecamatan Manyar, Gresik.
Selain itu juga menggunakan unit FPSO (floating production storage and offloading) yaitu unit terapung yang digunakan untuk mengambil minyak di lautan sekaligus memprosesnya menjadi minyak jadi dan langsung dialirkan ke Pertamina.
Menurut Andiono, gas yang diproduksikan dari Lapangan Bukit Tua akan dialirkan ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mendukung penyediaan listrik di Wilayah Jawa Timur (Jatim) melalui Petrogas Jatim Utama (PJU). PJU adalah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim.
"Sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS), kami juga comply dengan aturan Tanggung Jawab Sosial (TJS) perusahaan," jelas Andionk.
Antara lain dengan menggandeng Universitas Trunojoyo Madura (UTM) untuk mengidentifikasi peta sosial komunitas di tiga kabupaten yang menjadi tempat beroperasinya Petronas di WK Ketapang. Yaitu Kabupaten Gresik, Bangkalan dan Sampang.
Program TJS yang disasar mencapai 13 kecamatan dengan 29 desa dan diperoleh data bahwa banyak pengangguran yang tidak memiliki keterampilan, putus sekolah, akses kesehatan yang minim, tidak ada akses air bersih, banjir saat musim hujan, dan dukungan nelayan yang minim.
"Dengan kondisi seperti itu, kami merancang program yang berkelanjutan melalui program pelatihan kewirausahaan bagi anak muda yang disebut Program Ksatria sejak 2015," ungkap Andiano.
Program ini juga diiringi dengan program Srikandi dalam bentuk pelatihan pemberdayaan perempuan melalui wirausaha pada tahun ini. Sementara program operasional TJS sejak 2014 adalah memberikan layanan kesehatan melalui Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu).
Program lainnya di sektor pendidikan dengan memberikan pelatihan keterampilan lanjutan kepada para guru, memberikan bantuan buku ke perpustakaan, Program Juara Petronas dengan membayarkan uang sekolah, seragam, tas, sepatu, dan peralatan tulis kepada siswa di tiga kabupaten tersebut. Semua upaya dilakukan oleh perusahaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/jaringan-pipa-gas-milik-pt-petronas_20180508_220401.jpg)