Breaking News:

Citizen Reporter

Zaman Berubah, Permadani Tetap Menjaga Warisan

Sulitnya menjaga kesantunan yang selama ini diupayakan membuat komunitas Permadani membuka kursus MC dan tata cara berbagai acara.

Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) berdiri pada 4 Juli 1984 di Semarang. Aktivitas mereka kemudian menyebar ke berbagai daerah, termasuk di Lamongan.

Di Kabupaten Lamongan, Permadani didirikan pada 26 September 2006. Setiap 2 tahun sekali, Permadani Lamongan membuka kursus/pelatihan pembawa acara atau master of ceremony (MC). Spesialisasinya pranata adiwicara tuwin pamedhar sabda (khusus tata cara upacara penganten adat Jawa).

Mulai berdiri hingga saat ini, Permadani Lamongan telah menularkan ilmu ke-MC-an, khususnya formulasi kepranatacaraan Jawa kepada 300 peserta pelatihan. Mereka sekaligus menjadi anggota/warga Permadani.

Anwar Effendi, Ketua Permadani Pusat, dalam sambutan arahannya menuturkan, pentingnya pemahaman tata cara.

“Sekarang banyak anak didik yang pemuda, pelajar, remaja, dan mahasiswa yang tidak mengerti sopan santun, unggah-ungguh, solah-bowo, muna-muni….,” ungkap Anwar di hadapan 34 wisudawan pranata adicara di Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan baru-baru ini.

Ia mengapresiasi usulan untuk mengajak anak-anak belajar tata cara dalam berbagai acara. Wahyuni, Kepala SMPN 1 Modo yang memberikan usul itu saat acara ramah-tamah antara pengurus pusat dan pengurus daerah Lembaga Permadani.

“Melihat kondisi semacam ini, sangat pas jika diusulkan adanya pelatihan MC Pranata Adiwicara untuk kalangan anak-anak,” lanjut Anwar.

Kiprah Permadani dalam menghadapi era globalisasi antara lain tidak akan hanyut dalam suasana yang bernuansa individualis. Gara-gara sudah asyik dengan ponsel dan gadget lain, orang lupa dengan orang-orang di sekitarnya. Upaya lebih jauh ke depan adalah menguri-uri (melestarikan) budaya luhur hasil dari peninggalan nenek-moyang yang luhur, suci, dan mulia.

Para peserta kursus wajib mengikuti temu muka untuk menerima materi pelatihan sebanyak 24 kali. Di dalamnya ada materi tentang tata cara berbusana adat Jawa, sikap, tata krama, dan sebagainya.

Jangan khawatir dengan kemahiran dalam berolah kata sebagai seorang MC. Itu bergantung pada masing-masing keterampilannya. Yang penting adalah adanya perubahan sikap setelah mengikuti kursus di Lembaga Permadani.

Selain itu, yang terpenting adalah penerapan rukun rasa, rukun banda, dan rukun bala. Pada gilirannya semua bisa ndhudhuk, ndhudhah, saha mekar lan ngrembakake karya budaya adiluhung, tetilarane para leluhur dengan sifat yang ada pada diri pribadi yang gemi (hemat), ngastiti (pandai mengelola/menggunakan), dan ati-ati (berhati-hati).

Rasa sosialnya adalah jangan sampai menyusahkan orang lain. Justru kalau bisa, sedapat-dapatnya membuat gembira dan bahagia orang lain. Bila ada orang yang membutuhkan jasa dan tenaga, jangan mencari keuntungan dulu melainkan menanamkan sikap baik.

Sutejo
Ketua Permadani Kabupaten Lamongan

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved