Berita Ekonomi Bisnis

Konsumsi Cokelat Meningkat, Kakao sebagai Bahan Baku Terancam Impor

Konsumsi cokelat di Indonesia dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup tinggi.

Konsumsi Cokelat Meningkat, Kakao sebagai Bahan Baku Terancam Impor
surya/Srihandi lestari
Kepala Sains Technopark Kopi Kakao Jember, Pujiyanto (kedua dari kiri) menerima penghargaan dari Bareca di Surabaya, Rabu (2/5/2018) malam. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Konsumsi cokelat di Indonesia dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Namun bahan baku kakao sebagai bahan dasar cokelat mengalami penurunan yang cukup tinggi. Sehingga kakao di Indonesia berpotensi mengalami impor yang tinggi.

Kepala Sains Technopark Kopi Kakao Jember, Pujiyanto mengatakan saat ini dari data pemerintah produksi kakao di Indonesia mencapai 600.000 ton per tahun.

"Namun data asosiasi kakao hanya sebesar 340.000 ton per tahun. Sementara kebutuhan industri di Indonesia terkait bahan baku kakao cukup tinggi," ungkap Pujiyanto, di sela acara Bareca Appreciation Award di Surabaya, Rabu (2/5/2018) malam.

Sementara kebutuhan industri pengolahan kakao di Indonesia mencapai lebih dari 600.000 ton. Bahkan tahun 2017 lalu, naik hingga 800.000 ton, karena menurut asosiasi di tahun lalu ada impor kakao hingga 200.000 ton.

"Angka itu cukup tinggi, karena sebelumnya hanya dikisaran 60.000 ton saja impornya," tambah Pujiyanto.

Dengan jumlah 600.000 ton kakao per tahun, diakui Pujiyanto tidak semua masuk industri di Indonesia. Tapi juga ada yang diekspor. Diantaranya ke Jepang.

Prediksi peningkatan konsumsi cokelat di dalam negeri, per tahun akan mengalami peningkatan antara 1,5 hingga 2 persen.

Hal itu tak lepas dari peningkatan produk makanan dan minuman yang menggunakan bahan baku cokelat. Selain itu juga meningkatnya konsumsi kakao di Indonesia itu tidak lain karena banyaknya perusahaan pengolahan kakao dari luar negeri yang memindahkan pabriknya ke Indonesia.

Kepindahan itu karena pemerintah Indonesia memberlakukan pajak impor bagi bahan baku kakao sebesar 10 persen hingga 15 persen.

Sehingga dengan pajak itu, perusahaan dari luar berpikir untuk membuat pabrik di sini.

Halaman
12
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved