Single Focus
TKI Jangan Mudah Tergiur Iming-iming Rupiah Saat Dimintai Tolong Kirim Barang
Banyak TKI yang terjerat kasus hukum karena mau menjadi kurir narkoba dari sindikat internasional.
Penulis: Danendra Kusumawardana | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA - Banyaknya TKI yang menjadi korban sindikat narkotika internasional, membuat Anik Marfista sedih dan kecewa. Penyebabnya, faktor pendidikan yang rendah, sehingga mereka mudah jadi sasaran sindikat.
"Harusnya mereka mengecek terlebih dulu dan pikir panjang sebelum dititipin sesuatu atau barang, oleh seseorang yang tidak dikenal," ujarAnik, Minggu (29/4).
Menurutnya, yang sering menjadi sasaran sindikat internasional adalah TKI ilegal. Namun, jika korban sudah dianggap sebagai pengedar mana bisa pemerintah melindungi, meski TKI legal maupun ilegal.
"Di sisi lain, narkotika adalah extra ordinary crime," terangnya.
Perlindungan hak TKI yang dimaksud, perlindungan kasus kekerasan dan penganiayaan yang diterimanya, bukan masalah peredaran narkotika.
Anik mengungkapkan, modus yang dilakukan pelaku terhadap korban, ketika sudah dititipin sesuatu, mereka tidak boleh membuka hingga sampai ke tangan perantara lain. Tentu dengan iming-iming imbalan yang besar.
"Faktor ekonomi juga mempengaruhi," kata alumnus Hukum Universitas Airlangga ini.
Mustahil Lolos
Soal lolosnya pemeriksaan di Bandara Malaysia, Anik berkomentar, jika tidak memiliki kenalan orang dalam mana bisa semudah itu lolos.
"Sepertinya mustahil ya bisa lolos pemeriksaan kalau tidak punya kenalan orang dalam," ungkapnya.
Sepengetahuan Anik, para sindikat narkotika internasional ini menggunakan pelabuhan tikus untuk mengelabuhi petugas agar tidak tertangkap saat mengirim.
"Selain bandara, mereka juga menggunakan pelabuhan tikus untuk mengirim barang haram itu," pungkasnya.
Baca: Dituntut Belasan Tahun Penjara, TKI Malaysia Pembawa Narkoba Menyesal
Baca: Tergiur Honor Puluhan Juta, Banyak TKI Rela Jadi Kurir Narkoba