Sosok
Sosok - Diana Putri Arifiani, Prihatin Bahasa Alay
"Banyak anak muda dalam bertutur kata atau menulis menggunakan bahasa alay. Salah satu contoh adalah kata 'chayangs' (sayang)," kata Diana.
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: irwan sy
SURYA.co.id | BANGKALAN - Era millennial tak hanya merubah gaya hidup, tapi juga peradaban. Dengan teknologi digital, generasi muda saat ini tumbuh kreatif dan berinovatif.
Segala aktivitas tak lepas dari sentuhan internet. Di satu sisi, era millennial seolah 'menyeret' dan menjauhkan generasi muda dalam penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
"Banyak anak muda dalam bertutur kata atau menulis menggunakan bahasa alay. Salah satu contoh adalah kata 'chayangs' (sayang)," kata Diana Putri Arifiani, Jumat (27/4/2018).
Karena itulah, mahasiswi STKIP PGRI Bangkalan itu memilih Prodi Bahasa Indonesia sebagai upaya mempertahankan struktur kalimat dalam Bahasa Indonesia.
"Penggunaan Bahasa Indonesia sudah tidak lagi tertata. Anak-anak menjadi alay dengan gaya tulisan-tulisan bersimbol," sambungnya.
Kecintaan dara berusia 22 tahun asal Desa/Kecamatan Socah itu terhadap Bahasa Indonesia dibuktikan dalam karya-karyanya berupa cerpen dan puisi.
Bahkan, naskah drama karyanya dengan judul 'Ketiban Duren (Duda Keren)' meraih peringkat III dalam Festival Monolog yang digelar kampusnya di pada 2017.
"Meski dalam keseharian Bahasa Indonesia sering dikombinasikan dengan dialek masing-masing daerah, kita harus mengerti struktur kalimat yang benar," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/sosok-diana-putri-arifiani_20180427_180023.jpg)