Berita Surabaya

Lewat Body Painting, Mahasiswa Tata Rias Universitas PGRI Adi Buana Tampilkan Kultur Dunia

Dalam waktu 3 jam, 30 mahasiswa jurusan Tata Rias Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya harus menyelesaikan kreasi body painting. Ini hasilnya

surabaya.tribunnews.com/delya oktovie
Deretan karakter dari budaya dunia ciptaan 30 mahasiswa jurusan Tata Rias Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Mereka menggunakan teknik body painting untuk menghidupkan karakter. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dalam waktu tiga jam, 30 mahasiswa jurusan Tata Rias Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya diharuskan menyelesaikan kreasi body painting dalam pagelaran bertajuk "The World Ancient Culture", Kamis (19/4/2018).

Kesulitan tak hanya terletak pada teknik memoles make up, tetapi juga kostum yang ditampilkan.

Ada mahasiswa yang 'menyulap' temannya menjadi unicorn, ogoh-ogoh, piramida, hingga Colosseum, dengan menggunakan teknik rias body painting.

"Kami ingin menampilkan seluruh kultur yang ada dunia. Ada berbagai macam kategori dengan dua bagian, yaitu karakter dan fantasi," tutur event organizer Adi Sufrianto usai acara yang diadakan di Royal Plaza, Surabaya.

Pagelaran ini merupakan ajang penilaian untuk tugas akhir mahasiswa semester delapan.

Puncak pameran hasil karya mahasiswa akan diadakan pada tanggal 3 Mei 2018 di Ciputra World Mall, Surabaya.

Kriteria penilaian tidak mudah menurut Adi, karena masing-masing karakter memiliki takarannya sendiri.

Seperti fantasi yang tetap sesuai dengan kultur, namun wajib menggambarkan keunikan dari tiap perias.

Sedangkan karakter diambil dari karakter budaya yang sudah ada, ditambah dengan teknik make up yang rumit.

"Misal seperti Munir, dia membuat tema piramida. Karena fantasi, kostum dan make up dibuat di luar konteks. Beda lagi dengan karakter. Misal tokoh ogoh-ogoh, tetap dibuat seperti ogoh-ogoh aslinya, tapi make upnya menggunakan gelatin untuk memunculkan efek 3D," terangnya.

Satu di antara mahasiswa yaitu Saraswati (22), mengerjakan karakter fantasi dari Suku Maya.

Perempuan asli Tuban ini mengaku tidak terlalu kesulitan ketika pengerjaan, namun teknik riasnya memang cukup menguras pikiran.

"Tetep ada tekniknya, dan itu susah. Misalnya teknik pengaplikasian glitter. Saya mulai dari nyari-nyari tema sampai dengan proses latihan itu butuh waktu dua bulan," tutur perempuan yang juga bekerja freelance sebagai Make Up Artist (MUA) ini.

Pada tanggal 3 Mei 2018 nanti, Adi berharap mahasiswa dapat menampilkan karya-karya terbaiknya, sebagai gambaran dari apa yang telah mereka pelajari selama empat tahun kuliah.

"Saya ingin mereka menampilkan sesuatu yang orisinil," ujarnya. 

Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved