Berita Madiun

Kisah Perjuangan Hidup Mbah Prenjak, Berjualan Obat Nyamuk Bakar di Trotoar Setiap Malam

Di usianya yang lebih dari 80 tahun, Mbah Prenjak menghabiskan setiap malamnya di trotoar untuk berjualan obat nyamuk. Ini kisahnya dari Madiun

Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/rahadian bagus
Mbah Prenjak, penjual obat nyamuk bakar di Madiun 

SURYA.co.id|MADIUN - Jarum jam menunjukan pukul 23.00 WIB. Seluruh toko di Jalan Trunojoyo, Kota Madiun sudah tutup malam itu. 

Lalu lintas di sepanjang Jalan Trunojoyo pun juga mulai tampak sepi. Hujan yang baru saja reda membuat udara di Kota Madiun terasa dingin.

Tampak seorang wanita tua tidur meringkuk beralaskan kardus dan plastik bekas di trotoar, di depan toko di Jalan Trunojoyo 159, Kota Madiun.

Di samping wanita tersebut, tampak lampu tempel diletakkan di atas ember bekas cat. Sinar lampu teplok ini menyala menyinari tubuh wanita berkerudung hijau itu.

Beberapa kardus bekas pembungkus obat nyampung disusun rapi di sebuah rak bambu dan seng yang diletakan di samping lampu teplok.

Di samping tubuh wanita itu juga terdapat mangkuk plastik, botol berisi air minum, nasi bungkus yang tinggal separo, dan tiga buah payung.

Sadar ada orang di dekatnya, wanita yang semula tidur ini kaget dan terbangun. Ia kemudian bertanya jam berapa saat itu.

"Jam pinten sakniki(jam berapa sekarang),"kata wanita yang mengaku bernama Warti ini saat ditemui, Rabu (18/4/2018) malam.

Warti mengaku sudah sejak kecil berjulan di pinggir jalan. Ia tak ingat persis sejak tahun berapa ia berjualan.

"Mpun kawit kulo tasih alit, (sudah sejak dulu, waktu masih kecil)," kata wanita yang mengaku berasal dari Kecamatan Balong, Ponorogo ini sambil tertawa.

Warti mengatakan, dahulu ketika masih muda ia berjualan mainan anak-anak pada siang hari. Namun, seiring perkembangan zaman, dagangannya tidak laku.

Hingga akhirnya ia memilih untuk berjualan obat nyamuk bakar, rokok, dan korek, pada malam hari di pinggir jalan.

Wanita sepuh ini mengaku berjualan setiap hari. Dia berangkat dari rumahnya di Jalan Ciliwung Gang IV usai Magrib, sekitar pukul 18.00 WIB, hingga pagi dini hari.

Untuk membawa barang dagangannya, Warti atau yang juga dikenal Mbah Prenjak ini diantar tukang becak. Begitu juga saat pulang ke rumah.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved