Single Focus

Warga: 'E-Tilang Cuma Pengaruh di Jalan-jalan Protokol'

E-tilang di Surabaya tampaknya belum diterapkan di seluruh sudut kota Surabaya. Begini pengakuan warga yang merasakannya...

Warga: 'E-Tilang Cuma Pengaruh di Jalan-jalan Protokol'
SURYA Online/Fatimatuz Zahro
Petugas Surabaya Intelegent Transport System (SITS) sedang menunjukkan teknis pemantauan pelanggaran menggunakan CCTV untuk penerapan E-Tilang di Bratang. 

SURYA.co.id | SURABAYA - E-tilang di Surabaya tampaknya belum diterapkan di seluruh sudut kota Surabaya. 

Sejauh pengalamannya, Renno Bobby Chuplyrulla (24) menemukan efektivitas e-tilang hanya terjadi di jalan-jalan protokol saja.

Ia memang belum pernah tertangkap melakukan perlanggaran lewat e-tilang, begitu juga teman-temannya.

Perbedaan yang ia rasakan adalah perubahan perilaku, terutama pada sesama pengendara roda dua.

"Dulu sebelum ada CCTV dan rame e-tilang, orang-orang suka ngelanggar marka, terus ngelanggar batas garis lampu merah. Tapi setelah ada ya jadi agak tertib," kata alumni SMAN 6 Surabaya ini, Sabtu (7/4/2018).

Tetapi pengaruh CCTV tidak begitu ia rasakan di jalan-jalan lain, seperti di dekat rumahnya, yaitu daerah Sidotopo, Surabaya.

Masih banyak pengendara yang melanggar lalu lintas, dan bertindak semena-mena di jalan.

Perilaku ini menyebabkan semakin ruwetnya jalan-jalan daerah tersebut, terlebih di pertigaan, perempatan dan lampu lalu lintas.

"Sebenernya tergantung kesadaran masyarakatnya sih. Ada juga yang meskipun itu bukan jalan protokol, dan tidak ada CCTV, tapi lumayan tertib pengendara-pengendaranya," kata pria yang sehari-hari sering berkendara dari Surabaya ke Sidoarjo ini.

Satu di antara jalan yang lalu lintasnya rawan kusut, tetapi pengendara jarang melanggar adalah lampu lalu lintas di dekat SMA Khadijah, Wonokromo, Surabaya.

Menurutnya, pengendara masih menjaga diri untuk tidak melewati batas lampu lalu lintas.

Meski konsep e-tilang bagus, Renno berpendapat peran polisi lalu lintas tetap penting untuk kasus-kasus tertentu.

"Kalo e-tilang kayaknya cuma bisa ngeliat pelanggaran marka, atau ya pelanggaran yang kasat mata istilahnya. Tapi kalo dengan polantas kan seperti knalpot bong, itu bisa diurus oleh mereka," ujarnya. 

Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved