Citizen Reporter

Manfaatkan Lahan Sempit di Kampung Jodipan

Lahan sempit yang dikelola dengan kreatif justru bisa menjadi istimewa. Orang perlu belajar dari Kampung Jodipan, Malang.

Manfaatkan Lahan Sempit di Kampung Jodipan
ist

Pembelajaran tidak harus di dalam kelas. Suasana pembelajaran luar kelas yang berbeda menghasilkan kesan yang berbeda juga untuk siswa. Mereka bisa bereksplorasi, menemukan hal baru, menuangkan ide, dan berkreativitas lebih luas lagi. Itu seperti yang dilakukan 73 siswa kelas lima SD Kyai Ibrahim Surabaya.

Bertepatan dengan HUT ke-104 Kota Malang, siswa Kelas 5 belajar ke Malang. Kegiatan didampingi dua guru kelas.

Yang menarik, mereka tidak menggunakan bus seperti biasanya jika beraktivitas di luar sekolah. Rombongan menggunakan kereta ekonomi Penataran Dhoho sebagai transportasinya. Mereka berangkat dari Stasiun Waru dan berhenti di Stasiun Kota Malang.

Sampai di Malang, para siswa dan guru menuju Kampung Warna-warni Jodipan dengan berjalan kaki. Kampung yang berhasil disulap oleh mahasiswa awalnya itu, mampu menarik perhatian wisatawan.

“Sudah banyak bule yang datang ke sini dan mengambil gambar. Ada juga yang mewawancarai untuk liputan majalah dan televisi,” tutur Endang, salah satu penjaga loket di Kampung Warna-warni Jodipan.

Tiket masuknya juga murah. Dengan Rp 3.000, pengunjung dapat berfoto di pelbagai sudut. Warna cat rumah, gambar, dan ornamennya sangat menarik. Khusus untuk siswa paud dan TK gratis, sedangkan untuk siswa SD hanya membayar separuhnya.

Dari kampung itu, siswa belajar kesenian, pemanfaatan lahan sempit, dan perekonomian yang dikembangkan di sana. Selain itu, tersaji pemandangan sungai yang bersih dan jernih sebagai salah satu sajian alam di Kampung Warna-warni Jodipan.

Tidak jauh dari lokasi, tepatnya di belakang Balai Kota Malang, dua Macito (bus pariwisata gratis di Malang) siap mengantar anak-anak berkeliling Kota Malang. Berada di tingkat dua Macito, mereka benar-benar bisa merasakan hawa Malang yang sejuk di terik panas matahari.

“Saya sering ke Malang, tetapi baru sekarang naik Macito berkeliling Kota Malang. Saya sangat senang. Semoga tahun depan saya bisa menikmati ini lagi,” ungkap Shofia, salah satu siswa dengan muka ceria.

Kegiatan seperti itu perlu dilakukan oleh guru untuk mengenal kekayaan alam Indonesia. Siswa bisa mendapatkan banyak informasi dan wawasan ketika langsung datang ke lokasi.

Nur Sofiah
Pengajar di SD Kyai Ibrahim Surabaya

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved