Pilkada 2018

Kunjungi Sentra Shuttlecocks di Nganjuk, Khofifah Heran Kampung Ini Kekurangan Tenaga Kerja

Khofifah menyebut seharusnya bahan baku bulu itu bisa swasembada dari nasional. Terlebih dengan hobi masyarakat Indonesia yang hobi kuliner.

Kunjungi Sentra Shuttlecocks di Nganjuk, Khofifah Heran Kampung Ini Kekurangan Tenaga Kerja
surya/fatimatuz zahro
Cagub Khofifah Indar Parawansa saat mengunjungi UKM penghasil shuttlecocks di Nganjuk. 

SURYA.co.id | NGANJUK - Khofifah menyambangi industri rumahan di kampung penghasil shuttlecocks yang ada di Desa Sumengko, Nganjuk, Senin (26/3/2018). Di usaha UD Mustika milik Ngalimun tersebut ternyata memiliki keunikan dan permasalahan tersendiri yang cukup unik.

Kampung ini ada sekitar 70 pengusaha shuttlecocks yang memiliki tenaga kerja sekitar 40 orang. Uniknya, di kampung ini ternyata pelaku usaha di sini justru kekurangan tenaga kerja.

Industri rumahan yang meningkat penjualannya di musin turnamen ini sering kekurangan tenaga kerja bahkan sampai harus diambil dari kecamatan tetangga.

"Kebutuhan tenaga kerja di sini tinggi. Bahkan sampai kekurangan. Kalau di tempat lain itu kekurangan lapangan kerja di sini malah kelebihan lapangan kerja, menurut saya ini informasi mahal," kata Khofifah.

Yang menjadi sorotan Khofifah adalah masalah bahan baku. Usaha di kampung ini seratus persen adalah impor dari Taiwan. Bulu shuttlecocks yang digunakan adalah bulu bebek peking.

Bulu tersebut yang memiliki kualifikasi untuk permainan bulutangkis internasional. Namun, pengusaha di sana mengeluhkan adanya rantai yang panjang untuk mendapatkan bulu tersebut.

Khofifah menyebut seharusnya bahan baku bulu itu bisa swasembada dari nasional. Terlebih dengan hobi masyarakat Indonesia yang hobi kuliner.

"Rekomendasi mereka kalau bisa dilakukan budidaya dengan format bebek peking dalam jumlah besar. Saya rasa dengan masyarakat kita yang hobi kulineran pasti bisa mandiri dengan menghasilkan bulu untuk industri shuttlecock," paparnya.

Permasalahan kedua yang juga harusnya jadi perhatian pemerintah adalah masalah siklus penjualan shuttlecocks. Industri kampung ini selama tujuh bulan di musim hujan selalu produksi dengan sistem stok untuk demain di bulan Mei Agustus dan akhir tahun.

Siklus penjualaan shuttlecocks terbilang unik dan kurang dinamis. Karena demand hanya naik drastis di saat turnamen dan saat media gencar memberitakan tentang dunia bulutangkis.

Halaman
12
Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved