Berita Surabaya

Nurhayati Dwi Kirana, Sempat Ajari Make Up Halal di Pondok Pesantren

Walau para santriwati ini jarang berada di dunia luar ponpes, ketertarikan mereka pada dunia make up justru tidak surut.

Nurhayati Dwi Kirana, Sempat Ajari Make Up Halal di Pondok Pesantren
SURYAOnline/Delya Octovie
Nurhayati Dwi Kirana 

SURYA.co.id | SURABAYA – Satu di antara peserta gathering MUA Surabaya bersama Wardah di Ibis Styles Hotel, Surabaya, Sabtu (24/03/2018) adalah Nurhayati Dwi Kirana (23).

Perempuan yang tiga tahun menjalani profesi MUA ini, termasuk dalam sepuluh MUA yang diundang oleh Wardah, karena telah memiliki kerja sama dengan Wardah.

Selama menjadi MUA yang sering memberikan workshop, pengalaman paling berkesan bagi pemilik Galuh Kirana Make Up ini, adalah ketika ia memberikan pelatihan pada santriwati pondok pesantren Mambaul Ulum Bata Bata di Pamekasan, Madura.

“Nama acaranya ngaji tata rias. Saya juga kaget, saya kira sehabis ngaji, terus workshop. Ternyata enggak, ngaji itu artinya belajar. Yang paling saya kagumi itu, biasanya santriwati kalo keluar pesantren, cenderung jadi ustadah, atau ibu rumah tangga. Tapi ternyata santriwati ini pengen ngerasain, kalo belajar make up itu bisa jadi kerja apa sih,” tutur perempuan yang akrab disapa Dwi ini.

Dwi pun menjelaskan bahwa belajar make up tidak berarti satu-satunya pekerjaan yang akan dilakoni adalah perias, tetapi mereka juga bisa masuk ke perusahaan kosmetik, misalnya di bagian marketing.

Ketika itu, Dwi mengajar sekitar seratus santriwati yang memiliki minat sangat tinggi terhadap dunia make up.

Ia kagum dengan antusiasme mereka, karena walau para santriwati ini jarang berada di dunia luar ponpes, ketertarikan mereka pada dunia make up justru tidak surut.

“Minat mereka tinggi banget, walau mereka terbatas dari dunia luar. Mereka setahun pegang gadget itu cuma dua kali liburan, tapi mereka punya suara ke pemimpin ponpes, kalo mereka pengen belajar tata rias. Kami ngajarin kalo tata rias itu bisa sesuai ajaran islam,” tutur penggemar Arman Armano dan Samer Khouzami ini.

Tak puas hanya menjadi MUA, pelatih dan pembicara seputar make up saja, Dwi ingin mendirikan sekolah make up sendiri dengan target perempuan muslim.

Ia tidak membatasi orang-orang yang beragama selain islam untuk masuk sekolahnya.

Dwi hanya ingin ketika orang mendengar nama sekolahnya, ada branding yang kuat.

“Seperti Wardah itu halal, Wardah itu muslimah, saya juga ingin begitu,” pungkasnya.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved