Berita Sumenep

Ditetapkan Sebagai Desa Keris Pertama di Sumenep, Ini Harapan Kepala Desa Aeng Tong-tong

Kabupaten Sumenep oleh UNESCO diakui sebagai daerah pemilik pengrajin keris terbanyak di dunia yang mencapai 640 orang

Ditetapkan Sebagai Desa Keris Pertama di Sumenep, Ini Harapan Kepala Desa Aeng Tong-tong
SURYAOnline/Khairul Amin
Bupati Sumenep, KH Abuya Busyro Karim saat memberi sambutan pada penetapan desa keris 

SURYA.co.id I SUMENEP – Pemerintah Kabupaten Sumenep telah menetapkan Desa Aeng Tong-tong, Kecamatan Saronggi, sebagai desa keris pertama di Kabupaten tersebut, Sabtu (17/32018).

Penyerahan SK keputusan diserahkan langsung oleh Bupati Sumenep, KH Abuya Busyro Karim.

“Atas nama pemerintah Kabupaten sumenep, saya menyampaikan selamat kepada masyarakat Desa Aeng Tong-tong telah ditetapkan sebagai desa keris,” tegas Busyro di hadapan para undangan pada peresmian yang berlangsung di desa tersebut.

Menurutnya, keris diakui sebagai warisan budaya tidak hanya di nusantara, tetapi sudah mendunia. Seperti pada tahun 2005, UNISCO telah menetapkan keris sebagai salah satu benda pusaka warisan dunia pada kategori non bendawi.

Penetapan tersebut bersamaan dengan kebudayaan lain, yaitu wayang, keris, angklung, batik, dan tari saman gayo.

“Menarik lagi, Kabupaten Sumenep oleh UNESCO diakui sebagai daerah pemilik pengrajin keris terbanyak di dunia yang mencapai 640 orang, mayoritas di Desa Aeng Tong-tong ini,” terang Busyro.

Oleh karenanya, tambah Busyro, penetapan ini sebagai bentuk komitmen Sumenep untuk terus menjaga warisan budaya tersebut, salah satu diantaranya adalah Nopember 2014 lalu, Kabupaten Sumenep telah mengukuhkan diri sebagai Kota Keris.

“Saya berharap, pemasaran produk keris di Desa Aeng Tong-tong terus memanfaatkan teknologi, khususnya media sosial, karena hal tersebut cukup massif,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Aeng Tong-tong, Taufik Rahman, dengan ditetapkannya desanya tersebut sebagai desa keris, sangat berharap banyak pada pendampingan pemerintah, utamanya dalam proses pengiriman luar negeri.

“Kendala utama pengrajin adalah dalam hal pengiriman, khususnya saat pengiriman ke luar negeri, terdapat banyak kendala, sehingga barang yang dikirim sangat lambat,” terangnya.

Oleh karenanya, tambah Taufik, dia berharap pendampingan dan pembimbingan dari pemerintah Sumenep dalam mengatasi permasalahan tersebut.

“Pengiriman benda pusaka ke luar negeri tidak bisa langsung dari Sumenep, harus ke Surabaya dulu,” tutur Taufik.

Oleh karena itu, tambah Taufik, pengiriman keris menjadi persoalan utama.

“Sementara, di desa kami sudah dijadwalkan secara berkala pengiriman pusaka ke luar negeri, saat ini dua bulan sekali, itupun masih kurang maksimal, karena banyak pemesan yang harus menunggu lama bila jauh dari jadwal pengiriman,” pungkasnya.

Penulis: Khairul Amin
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved