Female

Ibu-ibu Pejabat Berlenggak - Lenggok Promosikan Batik Daerahnya

Area panggung acara Gelar Kriya Dekranasda Jatim 2018 di main hall Grand City penuh dengan pengunjung berbaju batik.

Ibu-ibu Pejabat Berlenggak - Lenggok Promosikan Batik Daerahnya
surya/sudarma adi
Ibu-ibu pejabat, model dan Nina Soekarwo foto bersama di Gelar Kriya Dekranasda Jatim 2018 di Grand City, Kamis (15/3/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Area panggung acara Gelar Kriya Dekranasda Jatim 2018 di main hall Grand City penuh dengan pengunjung berbaju batik.

Mereka terkesima dengan aksi lenggak lenggok fashion para model yang mengenakan busana berbatik. Tak hanya sekadar model biasa, beberapa di antaranya adalah model dadakan namun langkah kakinya bak model profesional. Model dadakan yang beraksi itu seperti Nurfitriana Busyro Karim, istri Bupati Sumenep Abuya Busyro Karim, Ipuk Festiandani istri Azwar Anas dan Novita Hardini, istri Wakil Bupati Trenggalek M Nur Arifin. Mereka tak canggung memamerkan busana batik dari daerahnya.

Acara fashion show itu menampilkan ciri khas berbusana batik daerah di Jatim. Tampilan fashion ini adalah bagian dari Gelar Produk Kerajinan Unggulan Terlengkap dalam Gelar Kriya Dekranasda Jatim 2018 yang digelar Kamis (15/3) hingga Minggu (18/3) di Grand City. “Itu adalah bagian suppprt dari anggota Dekranasda (ibu-ibu pejabat) terhadap perajin batik. Apa yang diperagakan anggota sebagai wujud kepedulian pada perajin batik,” jelas Nina Soekarwo, Ketua Dekranasda Jatim usai acara itu.

Istri Gubernur Jatim Soekarwo ini menilai, fashion show ini bagus untuk bagian promosi sekaligus menggali kreativitas pebatik muda yang tampil di Gelar Kriya Dekranasda. Dari total 38 kabupaten/kota di Jatim, sekira 26 kabupaten/kota menampilkan kreasi batiknya dalam acara ini. “Pebatik muda dari berbagai daerah itu mampu menampilkan ciri khas batiknya,” jelasnya.

Dia menilai, dari tampilan para pebatik muda dari berbagai daerah itu, mereka punya ciri khas warna batik yang kontras. Selain itu, motif yang ditampilkan sebagian besar adalah flora fauna. “Itu yang tampak dari hasil karya pebatik muda. Tentunya, agar batik ini punya ciri khas, maka harus disertakan pakemnya,” ujarnya.

Meski harus disempurnakan, namun dia juga menilai bahwa karya yang ditampilkan dalam acara ini cukup bagus. Dia juga mendorong dan membina karya dekranasda, tak hanya batik tapi juga bordir dan wayang. Yang pasti, dengan pembinaan secara ajeg, maka sumbangan 23 persen kriya Jatim ke pusat bisa meningkat lagi. “Tetap harus ada filosofi batik yang dijual, berbasis budaya lokal. Dengan begitu, batik Jatim tetap membumi di Jatim,” tegasnya.

Sedangkan untuk karya batik yang ditampilkan dalam fashion, semuanya masuk penilaian karya terbaik. Seorang dewan juri acara ini, Lintu Tulis Tyantoro dari UK Petra menuturkan, ada 61 karya batik yang masuk dan dinilai sejak Rabu (14/3/2018) kemarin. Dari penilaian itu, Kota Madiun mampu merebut juara pertama. Kemudian Nganjuk dan Kota Malang masing-masing meraih peringkat kedua dan ketiga. “Sedangkan Surabaya menjadi juara favorit, karena komposisi dan filosofi batiknya yang kuat, yakni tentang kupu-kupu malam. Filosofi ini melambangkan semangat untuk bangkit dan berkarya positif,” paparnya.

Dia dan dewan juri lain menilai semua karya batik itu berdasarkan beberapa parameter, mulai dari motif lokal, kreativitas, warna, serta  harmoni antara judul, sumber dan motif. “Kualitas batik juga memengaruhi bagus tidaknya karya batik itu,” pungkasnya.

Penulis: Sudharma Adi
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved