Berita Kampus Surabaya

Minimnya Arsitek Lokal karena Sekolah Disebut lebih Suka Kenalkan Arsitek Eropa

Minimnya pendidikan formal tentang arsitektur nusantara membuat minimnya arsitek lokal.

surya/sulvi sofiana
Suasana Sarasehan Arsitektur Nusantara. 

SURYA.co.id| SURABAYA - Minimnya pendidikan formal tentang arsitektur nusantara membuat minimnya arsitek lokal.

Prof Josef Prijotomo, pensiunan Dosen Departemen Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengungkapkan selama ini yang didesain selalu sesuatu yang berbau negara asing.

Padahal dari segi arsitektur, ada fakta di abad ke-0, di Roma ada arsitekturnya. Tapi di Indonesia itu juga ada, sayangnya orang Indonesia nggak tahu.

Hal itu diungkapkannya dalam Seminar dan Sarasehan Arsitektur Nusantara 2018 di Ayola La Lisa Surabaya, Senin (12/3/2018).

"Arsitektur nusantara ya yang dari abad ke-0 sampai sekarang. Yang ada di sekolah saat ini yang dikenalkan arsitektur eropa, padahal mereka orang Indonesia,"urainya

Ia mengungkapkan Arsitektur Nusantara harus dikenalkan sebagai identitas Indonesia. Karena selama ini jika membahas khasan Indonesia sangat jarang menyinggungnya dalam hal arsitektur.

"Kalau memang punya kemauan memperkaya kekayaan Indonesia ya harus mau mengenalkan nusantara di bidang arsitekturnya," jelasnya.

Menurutnya peluang Arsitektur Nusantara memikiki peluang besar di era global. Hal ini dibuktikan dengan beberapa arsitektur yang terkenal yang sudah mampu membuat karyanya di luar negeri dengan kekhasan Indonesia.

"Saat ini perlu investasi dengan mengajarkan Arsitektur Nusantara pada generasi muda Indonesia,"pungkasnya.

Hendra Adidarma Presiden Direktur PT Propan Raya mengungkapkan saat ini sudah memikirkan bagaimana membuat sebuah produk cat yang bisa memperkuat sekaligus memperindah bangunan Arsitektur Nusantara.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved