Breaking News:

Berita Surabaya

Dedengkot Bonek Divonis 3 Tahun Penjara, Begini Ketegangan yang Terjadi di PN Surabaya

Mereka datang guna mengawal jalannya putusan sidang atas dua terdakwa dari suporter bonek, Jonerly Simanjuntak dan Slamet K.

Penulis: Fatkhul Alami | Editor: Musahadah
surya/fatkul alamy
Ribuan massa suporter Persebaya (bonek) ketika melakukan aksi unjuk rasa di depan PN Surabaya Jl Arjuno, Kamis (1/3/2018). 

SURYA.co.id I SURABAYA – Aksi ribuan suporter Persebaya (bonek) dan pesilat dari PSHT di depan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya Jl Arjuna sempat diwarnai ketegangan, Kamis (1/3/2018). 

Ribuan massa bonek dan PSHT sudah berdatangan di Jl Arjuno sejak pagi.

Mereka datang guna mengawal jalannya putusan sidang atas dua terdakwa oknum bonek, Jonerly Simanjuntak dan Slamet K.

Keduanya didakwa atas perkara ujaran kebencian melalui media sosial (medsos).  

Kendati sama-sama berada di Jl Arjuno, petugas melakukan blokade guna memisah massa bonek dan pesilat PSHT agar tidak berdekatan. Massa bonek berada di Jl Arjuno sisi selatan dan pesilat PSHT berada di sisi utara.

Selama jalannya sidang yang juga bisa didengar massa melalui pengeras suara, peserta aksi masih tenang dan tidak ada gejolak.

Massa bonek menerikan yel-yel dan menyanyikan lagu dukungan Persebaya layaknya sedang bertanding di stadion.

Ketegangan baru muncul ketika majelis hakim sudah menjatuhkan vonis terhadap Slamet K dengan hukuman penjara dua tahun dan Jonerly tiga tahun.

Ribuan massa pesilat PSHT  yang melakukan aksi di depan gedung PN Surabaya Jl Arjuno, Kamis (1/2/2018).
Ribuan massa pesilat PSHT yang melakukan aksi di depan gedung PN Surabaya Jl Arjuno, Kamis (1/2/2018). ()

Ratusan polisi pun meminta massa supaya meninggalkan Jl Arjuna, tapi sempat terjadi ‘suasana panas’ dan massa ingin berhadap-hadapan.

Polisi pun mendorong massa supaya bubar dan akhirnya peserta aksi meninggalkan Jl Arjuna. 

“Kami menurunkan sebanyak 750 perseonel. Selain dari Polrestabes Surabaya, juga dibantu Polda Jatim, Polres-Polres sekitar Surabaya untuk mengawal massa supaya tidak terjadi benrokan,” sebut Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan, Kamis (1/3/2018).

Rudi mengaku, akan terus berupaya melakukan mediasi dan pertemuan antara bonek dan PSHT. Supaya ada kesepahanan dan kesadaran semua pihak.

“Ini sama-sama anak bangsa, anak Jatim dan Surabaya. Apa yang mau cari, toh proses hukum sudah jalan,  kita ada aturan hukum,” tutur Rudi.

Lihat video: 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved