Breaking News:

Berita Surabaya

Tampil di Cerita The White Haired Girl, Michael dan Melisa Mengaku Kegerahan, Ini Penyebabnya

Meski rambut Melisa sama panjangnya dengan tokoh yang diperankan, dia tidak bisa merubah warna rambutnya pakai cat semprot.

surya/achmad pramudito
Michael Wiradinata yang memerankan sosok Wang Dachun dan Melisa Sugianto sebagai Yang Xi Er 

SURYA.co.id - Michael Wiradinata yang memerankan sosok Wang Dachun dan Melisa Sugianto sebagai Yang Xi Er bakal tampil dalam pementasan balet bertajuk The White Haired Girl yang ceritanya diangkat dari kisah nyata di jaman Dinasti Qing.

Penari balet selalu tampil dengan atribut yang khas, busana yang melekat di tubuh.

Busana itu membuat sang penari terlihat lincah, terutama ketika melakukan gerakan-gerakan yang tak jarang melompat, berputar, dan berdiri di ujung jemarinya.

Maka ketika busana yang dipakai berbeda, tentu bisa mengganggu gerakan tariannya.

Itu pula yang dialami Melisa Sugianto saat memerankan tokoh Yang Xi Er dalam cerita berjudul The White Haired Girl.

Dalam pementasan yang bakal disajikan di Ciputra Hall Performing Arts Centre, Sabtu (24/2/2018) nanti, Melisa harus memakai busana yang ukurannya lebar.

“Baju berlengan serta bentuk celana yang lebar ini justru mengganggu gerakan tari,” cetus Melisa Sugianto.

Tantangan lain yang dihadapi Melisa adalah dia harus memakai wig untuk menyesuaikan cerita ketika tokoh Xi Er rambutnya memutih akibat penderitaan selama dalam pelarian di gua.

Meski rambut Melisa sama panjangnya dengan tokoh yang diperankan, dia tidak bisa merubah warna rambutnya pakai cat semprot.

“Makan waktu lama kalau seperti itu. Jadi pilihannya adalah pakai wig, dan rambut asli saya digelung,” tuturnya.

Tantangan yang sama dihadapi oleh Michael Wiradinata yang didapuk sebagai Wang Dachun.

“Hampir sama sih. Aku juga jadi gerah karena harus pakai kostum berlengan ini bikin gerah,” ujar Michael.

Setelah berlatih selama tiga bulan, baik Melisa dan Michael hanya bisa berharap kegigihan mereka berlatih bisa memuaskan penonton.

“Kisahnya mirip Kartini ala Tionghoa, yaitu perjuangan seorang wanita yang rela berkorban membela kaumnya yang tertindas oleh sikap ketidakadilan,” begitu kata Sylvi mengenai pesan yang ingin disampaikan lewat pentas balet kali ini.

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved