Breaking News:

Berita Surabaya

Warga Tolak Perluasan Makam Umum Keputih Surabaya, Spanduk Bertebaran di Medokan Semampir

Spanduk dan poster penolakan penggusuran warga bertebaran di Kampung Medokan Semampir, Kecamatan Sukolilo.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Parmin
surya/nuraini faiq
Sejumlah spanduk menolak penggusuran kini bertebaran di Semolowaru, Jumat (23/2/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Spanduk dan poster penolakan penggusuran warga bertebaran di Kampung Medokan Semampir, Kecamatan Sukolilo, Jumat (23/2/2018). Mereka bahkan menolak dipindah ke Rusun.

Warga yang hampir semuanya tinggal di RT 02/RW 08 Kelurahan Medokan Semampir itu memasang spanduk penolakan saat kampung mereka didatangi Ketua DPRD Surabaya Armuji siang tadi. 

Cak Ji mendatangi kampung tersebut bersama Komisi A DPRD Surabaya. Selain Ketua Komisi A Herlina Harsono Njoto, sejumlah anggota Komisi ini juga ramai-ramai mendatangi kampung itu.

 "Selamat datang Pak Armuji dan Ibu Herlina. Kami tetap ingin tinggal di kampung kami. Jangan kami digusur," teriak warga perempuan menyambut kedatangan rombongan DPRD itu.

Kampung Medokan Semampir menjadi terkenal setelah kampung ini akan digusur untuk perluasan Makam Umum Keputih. Atas wacana itu, Ketua DPRD Armuji dan Kasatpol PP Irvan Widiyanto nyaris adu jotos di gedung dewan.

Cak Ji naik pitam begitu mendengar pernyataan Irvan terkait alasan penggusuran. Hingga akhirnya keduanya di lerai saat forum hearing rencana pelebaran makam dengan memindah warga Medokan Semampir rusun. 

Tampak spanduk bertuliskan ekspresi warga bertebaran. "Rakyat butuh tanah, bukan Rusun". Lalu "Usir Setan Tanah" dan banyak lagi berkaitan dengan penolakan penggusuran. 

Warga mengaku sudah tahu rencana kampung mereka menjadi lahan perluasan makam.

"Pemkot harus menunjukkan bukti kalau tanah yang didiami warga puluhan tahun itu milik pemkot," ujar Hartoyo, salah satu warga.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved