Berita Kediri

Kenakalan Anak Jadi Topik Bahasan Dewan, Dari Membolos, Menganiaya Sampai Membunuh

Kasus kenakalan anak-anak yang terjadi di Kota Kediri semakin memprihatinkan. Upaya penanganan pun dilakukan dengan mengumpulkan stake holder...

SURYAOnline/Didik Mashudi
Anak-anak punk saat mendapatkan pembinaan di Kantor Satpol PP Kota Kediri. 

SURYA.co.id | KEDIRI - Kasus kenakalan anak-anak yang terjadi di Kota Kediri semakin memprihatinkan. Bentuk kenakalan ini mulai dari membolos sekolah, menganiaya teman hingga terlibat kasus pembunuhan. Upaya penanganan pun dilakukan dengan mengumpulkan stake holder mencari solusinya.

Kasus pembunuhan Imam Subekti (25) yang dilakukan komunitas anak punk di Pasar Grosir Kota Kediri sempat membuat masyarakat tercengang. Karena sebagian besar para pelakunya ternyata masih anak-anak.

Belum reda kasusnya, masyarakat kembali dikejutkan kasus penganiayaan T (12) pelajar SD oleh teman sebayanya gara-gara gol bunuh diri. Akibat penganiayaan itu T masih kritis menjalani perawatan intensif di RS Dr Sutomo.

Kasus terbaru seorang pelajar SD juga menjadi korban pemerkosaan oleh sekelompok remaja yang masih di bawah umur. Di samping tiga kasus menonjol, juga sering ditemui kenakalan dalam taraf ringan seperti membolos sekolah.

Malahan yang mengejutkan salah satu sekolah SD saat memeriksa HP milik siswa ternyata cukup banyak yang membuka konten dewasa. Padahal konten yang mengarah ke pornografi ini tidak layak dilihat anak-anak.

Banyaknya rangkaian peristiwa yang menjadikan anak-anak sebagai korban dan pelaku ink membuat prihatin. Untuk mencari solusinya telah diupayakan kalangan anggota dewan dengan mempertemukan instansi dan pihak yang berkepentingan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri Drs Siswanto malahan mengusulkan untuk menekan kenakalan anak dengan menegakkan tata tertib di sekolah.

"Tata tertib harus ditegakkan. Selain itu juga dilakukan melalui parenting yang melibatkan orangtuanya," jelasnya.

Karena tanggung jawab dalam mendidik anak bukan hanya pihak sekolah tapi juga orangtua dan pihak eksternal.

"Pihak-pihak eksternal ini seperti Satpol PP, kepolisian dan lembaga perlindungan anak (LPA) harus ikut aktif berperan," jelasnya.

Termasuk guru bimbingan dan konseling (BK), guru kelas dan guru agama.

"Untuk pembinaan memang butuh anggaran. Namun itu bukan soal karena dewan sudah setuju menambahnya," ungkapnya.

Diungkapkan Siswanto, pihak sekolah dan masyarakat harus saling mendukung.

"Waktu jam sekolah anak tanggung jawab lembaga sekolah. Kalau beli jajan diluar mestinya jangan dilayani," tambahnya.

Halaman
12
Penulis: Didik Mashudi
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved