Berita Tulungagung

Kisah Penambang Pasir Tradisional Tulungagung, Bertahan di Tengah 'Gerusan' Tambang Pasir Ilegal

Sesekali kepala mereka masuk ke dalam air untuk mendapatkan pasir yang diinginkan.

Kisah Penambang Pasir Tradisional Tulungagung, Bertahan di Tengah 'Gerusan' Tambang Pasir Ilegal
surya/david yohannes
Seorang penambang pasir tradisional mengeruk pasir dari dasar Sungai Brantas, dan memasukkan ke dalam perahu. 

Namun kini di dasar Brantas dipenuhi bebatuan seukuran kepalan tangan.

Para penambang banyak mengambil pasir di delta.

Mereka harus harus memisahkan pasir dari bebatuan ukuran besar, sebelum mendapatkan pasir yang diinginkan.

“Biasanya kalau hujan dua hari saja malah enak. Pasirnya banyak dan tidak banyak batunya. Mengambilnya juga lebih mudah,” tambah Kukuh.

Tidak jarang para penambang ini harus kehilangan penghasilannya.

Misalnya, hasil kerja mereka sengaja ditimbun dan diambil keesokan harinya.

Namun pada saat malam turun hujan deras, dan permukaan Brantas naik.

“Pasir yang kami kumpulkan hanyut dibawa arus Brantas. Kalau sudah begitu pasrah. Sudah kerja keras, tidak jadi dapat uang,” tutur Kukuh.

Kinah menjadi saksi perjuangan para penambang ini.

Ibu empat anak ini mengaku sudah 10 tahun lebih berjualan minuman dan makanan untuk para penambang.

Empat kali Kinah berpindah lokasi warung mengikuti perpindahan para pencari pasir ini.

Pernah sekali warungnya didirikan di daratan yang ada di tengah aliran Brantas.

Cara ini semata-mata dipilih Kinah untuk mendekatkan diri dengan pelanggannya.

Namun Kinah pernah merugi, karena seluruh peralatannya hilang disapu aliran Brantas.

“Malamnya Kali Brantas banjir besar. Pagi hari saya datang ke warung, semua peralatan masak saya sudah hilang. Akhirnya pindah ke sini ini (lokasi berjalan sekarang),” kenang Kinah.

Penulis: David Yohanes
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved