Berita Tulungagung

Kisah Penambang Pasir Tradisional Tulungagung, Bertahan di Tengah 'Gerusan' Tambang Pasir Ilegal

Sesekali kepala mereka masuk ke dalam air untuk mendapatkan pasir yang diinginkan.

Kisah Penambang Pasir Tradisional Tulungagung, Bertahan di Tengah 'Gerusan' Tambang Pasir Ilegal
surya/david yohannes
Seorang penambang pasir tradisional mengeruk pasir dari dasar Sungai Brantas, dan memasukkan ke dalam perahu. 

Ada pula potongan untuk manol yang menaikan pasir ke atas truk.

Biasanya seorang manol yang menaikkan pasir dibayar Rp 75.000.

Para penambang ini biasanya turun ke aliran Brantas sejak pagi.

Jika suhu sedang dingin seperti saat ini, mereka mulai bekerja setelah matahari bersinar.

Kukuh menuturkan, untuk mendapatkan pasir seukuan truk engkel diperlukan waktu seharian.

Kadang sehari bisa dapat hingga dua perahu, atau seukuran dua truk engkel.

“Tapi biasanya kalau sudah dapat dua kali, besoknya tidak bekerja. Karena capainya luar biasa,” ucapnya.

Sesekali para penambang ini menghangatkan tubuh dengan minum teh panas di warung Bu Kinah (51), yang sengaja berjualan untuk para penambang.

Ada pula yang keluar dari air untuk makan dan merokok, kemudian kembali masuk ke air.

Dulu para penambang ini menyelam untuk mendapatkan pasir yang bagus.

Halaman
1234
Penulis: David Yohanes
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved